Baca dalam 3 menit

Peneliti Jerman: Kebijakan Lockdown Wuhan Merupakan Langkah yang Tepat

Waktu Publish : 14 Apr 2020, 22:29 WIB
SHARE ARTIKEL

Peneliti Jerman: Kebijakan Lockdown Wuhan Merupakan Langkah yang Tepat

Kota Wuhan, Provinsi Hubei - Image from : gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami

Menurut penelitian yang dilakukan oleh para akademisi dari Universitas Humboldt di Berlin, jumlah infeksi yang dikonfirmasi tumbuh dengan cepat di Tiongkok dalam dua minggu terakhir Januari, tetapi kemudian melambat pada awal Februari. Kota Wuhan, tempat virus COVID 19 pertama kali diidentifikasi dilockdown total pada 23 Januari.

Fisikawan Dirk Brockmann dan mahasiswa doktoral Benjamin Maier mengembangkan model difusi untuk melihat efek dari social distancing dan langkah-langkah pencegahan wabah lainnya. Brockmann mengatakan bahwa ketika penyakit menular menyebar tanpa hambatan, maka apabila terdapat satu orang yang terinfeksi menginfeksi tiga orang, tiga orang ini masing-masing akan menginfeksi tiga orang lainnya, dan dalam waktu yang sangat singkat, akan terdapat banyak orang yang menjadi sakit.

Namun, dalam studi tersebut dijelaskan bahwa pola pertumbuhan yang seperti ini tidak terlihat di Tiongkok setelah dilakukannya lockdown total di Wuhan dan kota-kota lain di provinsi Hubei, di mana puncak infeksi dicapai pada 7 Februari. "Sejak akhir Januari, jumlah kasus tumbuh semakin lambat dan kemudian rata," kata Brockmann. 

Menurut para peneliti, meski sangat ekstrim, strategi pengendalian wabah Tiongkok berhasil melindungi sebagian besar penduduknya dari infeksi COVID 19. Terbukti dengan jumlah kasus positif COVID 19 di Tiongkok sebanyak lebih dari 82 ribu kasus meski menyandang gelar sebagai negara terpadat di dunia.

Tim Jerman mengatakan bahwa pelacakan kontak dan langkah-langkah social distancing yang diterapkan di Tiongkok menyebabkan lebih sedikit kontak antara orang yang terinfeksi dan tidak terinfeksi, sehingga memperlambat penyebaran penyakit. Menargetkan populasi yang rentan dan mendorong perubahan perilaku telah terbukti efektif dalam mengatasi pandemi. Terutama dalam situasi di mana tidak diketahui berapa lama orang tanpa gejala atau yang hanya memiliki gejala ringan tetap infektif. 

Oleh karena itu, saat ini kita semua berada pada titik kritis: jika jumlah kontak terus dikurangi, wabah dapat dikendalikan. Tetapi jika ini tidak terjadi, jumlah kasus COVID 19 akan terus meningkat. Sekarang, semuanya sangat tergantung pada perilaku kita sendiri, terus waspada, lakukanlah social distancing dan tetap berada di dalam rumah untuk membantu pemerintah dan tenaga medis, bersama-sama berjuang melawan virus mematikan ini.

Terkait

news

80% Pasien COVID-19 Belum Didiagnosis Sebelum Wuhan Lockdown...

  • Edwin Adriaansz
  • 21 Mar 2020

news

Tidak Ada Pasien Baru COVID-19 di Guangxi, Namun Ada 34 Kasu...

  • Edwin Adriaansz
  • 21 Mar 2020

news

Ada Berita Baik, Wuhan Siap Membuka Diri Kembali.

  • Edwin Adriaansz
  • 25 Mar 2020

news

Hubei Sekarang Sudah Aman?

  • Edwin Adriaansz
  • 25 Mar 2020

health

7 Pertanyaan Tentang "Infeksi Tanpa Gejala" Dijawab oleh Kom...

  • Edwin Adriaansz
  • 31 Mar 2020

technology

51 Penerbangan Sipil Jemput 7.000 Petugas Medis yang Membant...

  • Nabila Caya
  • 01 Apr 2020
Banner Kanan
Logo follow bolong