Baca dalam 3 menit

Pria Lebih Banyak yang Meninggal Karena Corona, Dibandingkan Dengan Para Wanita

Waktu Publish : 04 Apr 2020, 14:27 WIB
SHARE ARTIKEL

Pria Lebih Banyak yang Meninggal Karena Corona, Dibandingkan Dengan Para Wanita

Orang memakai masker - Image from Gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami.

Menurut data dari negara-negara yang sedang mengalami bencana corona, tampaknya lebih banyak laki-laki meninggal karena COVID-19 daripada perempuan. Spekulasi ini menekankan peran gender dan norma dan perilaku sosial terkait, sebagai indikator risiko dan respons terhadap infeksi dan penyakit. Marcia Stefanick, seorang profesor dari Stanford Preventive Research Center di Fakultas Kedokteran Universitas Stanford, mengatakan, "Perbedaan gender berperan besar dalam sistem kekebalan tubuh, dan pandemi yang terjadi sekarang mengungkapkan hal ini." Para ilmuwan mengatakan, pria juga lebih mungkin terinfeksi virus ini, terutama mereka yang lebih tua dan memiliki masalah kesehatan lainnya.

Studi telah menunjukkan bahwa wabah penyakit transnasional sebelumnya, SARS pada tahun 2003 dan MERS pada tahun 2012, jumlah korban meninggal prianya dua kali lebih banyak daripada wanita. Salah satu alasannya, mungkin karena merokok dan minum alkohol, yang dapat meningkatkan kemungkinan terinfeksi virus tersebut dan meningkatkan risiko kematian. Perilaku buruk ini lebih banyak dilakukan oleh kaum laki-laki. Menurut data, di Italia, lebih dari 7 juta perokok adalah laki-laki, dan 4,5 juta adalah perempuan. Sedangkan di Asia, tingkat perokok pria 10 kali lipat dari wanita. Para ahli juga mengatakan bahwa reseptor yang membantu COVID-19 masuk ke sel manusia lebih banyak dimiliki perokok, menjelaskan mengapa semakin banyak pria yag tertular.

Distribusi gender di tempat kerja juga berperan. Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa, prevalensi virus ini di antara laki-laki mungkin terkait dengan dominasi mereka dalam pekerjaan yang dapat membawa mereka lebih dekat ke tempat umum, di mana patogen ditularkan dari hewan atau manusia. Stefanick mengatakan, sistem kekebalan wanita juga lebih kuat, mereka juga merespons vaksin dengan lebih baik. Alasannya adalah, melalui kehamilan, tubuh wanita telah belajar untuk menyerang pengganggu seperti bakteri, dan virus. Selama sembilan bulan, wanita membawa DNA asing di dalam tubuhnya dan harus melindungi tubuhnya.

“Kromosom juga berperan”, kata Stefanick. Pria memiliki sepasang kromosom X dan Y, sementara wanita memiliki dua kromosom X. Ada sekitar 900 gen pada kromosom X, banyak di antaranya terkait dengan fungsi kekebalan tubuh. Stefanick berkata, "Karena itu, wanita memiliki gen dua kali lebih banyak daripada pria untuk mendukung sistem kekebalan tubuh mereka.”

Terkait

news

Indonesia Kembali Menerima Vaksin Covid-19 dari China

  • Visco Joostensz
  • 01 May 2021

culture

'Life Matters', Film Dokumenter tentang COVID-19 akan Tayang...

  • Isna Fauziah
  • 18 Sep 2020

culture

Drama TV Tiongkok, Pemerintah vs COVID-19 Premier di CCTV

  • Isna Fauziah
  • 18 Sep 2020

news

Penumpang KRL Jabodetabek Dilarang Pakai Masker Scuba dan Bu...

  • Isna Fauziah
  • 16 Sep 2020

health

Negara Dukung Pelatihan Medis Terkait Pandemi COVID-19

  • Isna Fauziah
  • 15 Sep 2020

culture

Pameran Lukiasan Karya Fan Bo Eksplorasi Pengobatan COVID-19...

  • Isna Fauziah
  • 15 Sep 2020
Banner Kanan
Logo follow bolong