Baca dalam 3 menit

Tim Forensik COVID-19 Liu Liang Mengumumkan Hasil Laporan Otopsi Korban COVID-19

Waktu Publish : 19 Apr 2020, 17:20 WIB
SHARE ARTIKEL

Tim Forensik COVID-19 Liu Liang Mengumumkan Hasil Laporan Otopsi Korban COVID-19

virus corona dalam paru-paru manusia - Image from : gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami

Pandemi COVID-19 telah menyebar ke seluruh dunia. Baru-baru ini, Tiongkok telah membuat kemajuan baru yang dikembangkan melalui penelitian otopsi dalam tubuh pasien korban COVID-19. Dua belas hari setelah penelitian tubuh pasien, laporan otopsi kemudian dirilis. Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 utamanya menyebabkan reaksi inflamasi yang dalam pada saluran pernafasan dan luka pada alveolar. Fibrosis paru dan manifestasinya tidak separah yang disebabkan oleh SARS, namun respons eksudatif (pengeluaran cairan) lebih jelas daripada SARS.

Menurut laporan itu, luka paru-paru korban dapat terlihat jelas. Luka akibat inflamasi (berwarna putih abu-abu) dapat terlihat terutama di salah satu paru-paru. Paru-paru itu penuh dengan cairan lendir, jika dilihat dengan mata telanjang, dan sejumlah besar cairan kental dapat dilihat pada bagian yang meluap dari alveoli serta beberapa untaian serat yang menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2, umumnya menyebabkan reaksi peradangan yang dijumpai pada saluran pernapasan dalam dan luka pada alveolar.

Pada awal munculnya virus SARS-CoV-2, para peneliti mengumpulkan pengalaman yang pernah mereka lakukan untuk menemukan pengobatan yang tepat bagi penyakit COVID-19 ini, salah satunya adalah dengan terapi oksigen yang merupakan pengobatan dari barat. Namun pengobatan ini tidak cukup memiliki pemahaman menyeluruh terhadap penyebab hipoksia (kondisi kekurangan pasokan oksigen).

Dalam pengobatan terapi oksigen, sebelum pasien diberikan oksigen, pertama-tama yang harus dilakukan adalah bagaimana mengatasi manifestasi dahak terlebih dahulu. Jika tidak demikian, maka oksigen yang dimasukkan akan sia-sia. Sebenarnya, bukan karena pasien benar-benar kekurangan oksigen, namun oksigen tidak dapat masuk akibat dari saluran pernapasan di paru-paru yang terhambat dahak. Kita perlu membuka saluran pernafasan ini, menghilangkan cairan lendir yang lembab, membuat alveoli menjadi kering dan bersih, dan membuat bronkus agar tidak terblokir dari jalannya udara yang masuk ke paru-paru.

Profesor Liu Liang ( 刘良) telah menunjukkan bahwa penggunaan perangkat terapi oksigen secara membuta (tanpa memahami terlebih dahulu penyebab dari terblokirnya udara yang harus masuk ke paru-paru) sebelum menangani keberadaan cairan dahak, tidak dapat mencapai tujuan penyembuhan atau bahkan dapat menjadi bumerang. Tekanan oksigen akan mendorong cairan lendir dalam paru-paru menjadi lebih dalam, sehingga semakin memperparah hipoksia yang dialami pasien.

Direvisi oleh Richard Tan.

Terkait

health

WHO: Mutasi Virus Corona India Menyebar ke 44 Negara

  • Lupita
  • 12 May 2021

health

China Daratan Laporkan 21 Kasus COVID-19 Baru, Semuanya Dari...

  • Isna Fauziah
  • 28 Sep 2020

news

Resolusi DPR AS Kecam Sentimen Terhadap Orang Asia, termasuk...

  • Isna Fauziah
  • 18 Sep 2020

health

‘Gen’ COVID-19 Diduga Ada pada Kelelawar Sejak Beberapa ...

  • Della Shafira Putri
  • 31 Jul 2020

news

Bill Gates Bicara Soal COVID-19 di AS, Bagaimana Tiongkok?

  • Yohana Intan
  • 05 Jul 2020

health

Gak Kehabisan Ide, Sekarang Tersedia Mobil Tes COVID-19 Keli...

  • Oki
  • 29 Jun 2020
Banner Kanan
Logo follow bolong