Baca dalam 3 menit

Corona Membuat Industri Penerbangan Menderita Parah!

Waktu Publish : 01 Apr 2020, 20:34 WIB
SHARE ARTIKEL

Corona Membuat Industri Penerbangan Menderita Parah!

Pesawat baru mendarat - Image from Gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami.

Karena dampak COVID 19, industri penerbangan global diperkirakan akan mengalami kerugian lebih dari 250 miliar dolar AS (sekitar 4,1 kuadriliun rupiah) pada tahun 2020. Jika pemerintah tidak memberikan bantuan darurat, sekitar setengah dari maskapai penerbangan dapat bangkrut dalam beberapa minggu ke depan.

Liao Xuefeng, Pimpinan China Business Aviation Group (CBA), mengatakan bahwa, industri penerbangan telah terpuruk jatuh sekarang ini. Apabila diibaratkan, biasanya ada 1,4 miliar orang yang naik pesawat dalam satu periode, sekarang 1 miliar orang itu tidak naik pesawat. Hal ini bisa dikatakan sebagai kepedihan industri penerbangan. Banyak maskapai penerbangan membiarkan karyawan mereka pulang dan kembali nanti ketika mereka memulai bisnis kembali. Jumlah kebangkrutan maskapai sangatlah besar, dan pasti akan ada banyak merger dan banyak reorganisasi. Ia juga menyatakan bahwa menjadi pimpinan maskapai sebenarnya sangat sulit, karena modal-modal besarnya berada di luar kendali. Modal pertama adalah; biaya menyewa pesawat, kedua adalah; harga bahan bakar minyak, dan yang ketiga adalah; nilai tukar Yuan dan Dolar AS.

Tetapi Liao Xuefeng menyatakan bahwa mungkin saja dampaknya hanya dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, industri penerbangan masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Dalam jangka panjang, situasi pandemi sebenarnya memiliki dampak positif pada bisnis jet pribadi. Semakin banyak orang yang menyadari manfaat bisnis jet pribadi. Misalnya, selama wabah di Wuhan, banyak pengusaha di dunia memakai jet pribadi untuk mengangkut pasokan bantuan bencana ke Wuhan dari seluruh dunia. Jet adalah pesawat dengan ukuran yang relatif kecil dan dapat terbang langsung ke Wuhan dari kota-kota di seluruh dunia, tanpa melewati perbatasan kapan saja. Selain itu, jumlah orang yang ada di pesawat pribadi juga sedikit, sehingga kemungkinan penularan dari orang ke orang menjadi relatif kecil.

Liao Xuefeng juga menyatakan bahwa, untuk pemulihan industri penerbangan, langkah yang mungkin dilakukan adalah dengan mengajak orang-orang untuk bepergian dengan jarak dekat dan melakukan pemantauan, agar penumpang melakukan perjalanan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Di tengah-tengah pandemi, jumlah kebangkrutan maskapai penerbangan akan sangat besar. Maskapai penerbangan Tiongkok sendiri malah mendapatkan keuntungan, sebab, setidaknya rute perjalannya masih ada dan rute domestik juga tetap berjalan. Yang paling terpuruk sekarang adalah maskapai internasional seperti Singapore Airlines, karena mereka tidak memiliki rute domestik, dan penerbangan internasional dibatasi. Kemudian, langkah selanjutnya adalah mendorong pariwisata, yaitu dengan mempromosikan destinasi wisata dengan menekan harga sekecil mungkin.

Terkait

news

Larangan Operasi Maskapai Tiongkok Direvisi, Amerika Serikat...

  • Oki
  • 06 Jun 2020

news

Tersiar Kabar Jika Trump Percepat Larangan bagi Maskapai Tio...

  • Yohana Intan
  • 05 Jun 2020

news

NEW NORMAL! Ini Strategi Garuda Indonesia Agar Tetap Survive...

  • Oki
  • 04 Jun 2020

news

Kebijakan Penerbangan Satu Maskapai Untuk Satu Negara di Tio...

  • Nabila Caya
  • 01 Apr 2020

technology

51 Penerbangan Sipil Jemput 7.000 Petugas Medis yang Membant...

  • Nabila Caya
  • 01 Apr 2020
Banner Kanan
Logo follow bolong