Lama Baca 3 Menit

Mantan PM Malaysia Sebut Trump ‘Bencana’ dan Malah Bela Tiongkok

15 June 2020, 14:24 WIB

Mantan PM Malaysia Sebut Trump ‘Bencana’ dan Malah Bela Tiongkok-Image-1

Mahathir Mohamad - Image from gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami

Kuala Lumpur, Bolong.id - Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, menyebut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump itu sebagai ‘bencana’, jika terpilih lagi menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) pada pemilihan presiden (Pilpres) November 2020 mendatang. 

Dalam wawancaranya melalui platform Zoom pada hari  Sabtu (13/6/20) kemarin, Mahathir menyatakan bahwa dirinya tidak menyangka Trump akan memenangkan Pilpres empat tahun silam. Mahathir membandingkan Trump dengan mantan Wakil Presiden AS, Joe Biden, yang adalah calon presiden dari Partai Demokrat. Menurutnya, Biden adalah sosok yang lebih ‘masuk akal’ dan memiliki sikap yang baik dalam menunjukkan empati terhadap kerusuhan terkait rasialisme di AS yang belakangan ini terjadi. Mantan PM ini juga memberikan dukungannya untuk Biden agar mencalonkan diri menjadi presiden AS pada periode selanjutnya, meski dirinya tidak memiliki hak suara atas Pilpres AS mendatang. 

Kerusuhan akibat diskriminasi rasial yang terjadi pada George Floyd beberapa pekan lalu sangatlah mengguncang AS dan seluruh dunia. Tidak hanya itu, tuduhan-tuduhan AS terhadap Tiongkok perihal masalah Hong Kong, Laut Tiongkok Selatan dan secara khusus soal COVID-19, juga semakin menyoroti bobroknya kinerja pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Trump. Akhir-akhir ini, Trump beserta para pejabat di pemerintahannya menuduh Beijing tidak transparan atas peringatan dini soal wabah virus corona. Terkait hal ini, Mahathir justru membela Tiongkok dan menolak klaim pemerintahan Trump, yang menuntut Tiongkok untuk bertanggung jawab atas pandemi corona, meski dirinya setuju bahwa ‘jika melihat ke belakang’, pemerintah Tiongkok harusnya dapat menangani situasi tersebut lebih awal dan lebih baik.

Terakhir, Mahathir mengapresiasi keberhasilan rekan-rekan pemerintahan Malaysia yang dapat membuat warga di sana "taat hukum" saat kuncitara (lockdown) parsial pada tanggal 18 Maret 2020, hingga pekan lalu. Kuncitara parsial Malaysia saat ini sedang dilonggarkan secara bertahap, dan rencananya akan dicabut sepenuhnya pada akhir bulan Agustus 2020. Berkat kedisiplinan rakyatnya, Malaysia akhirnya memiliki jumlah kasus COVID-19 yang relatif rendah jika dibandingkan dengan AS dan negara-negara Eropa lainnya. Mahathir merasa, negara bebas seperti AS tidak akan mampu mengikuti jejak Malaysia, yang memiliki orang-orang yang sangat taat hukum.