Lama Baca 2 Menit

China dan Inggris Umumkan Reset Hubungan Diplomatik di Tengah Ketidakpastian Global

29 January 2026, 10:34 WIB

China dan Inggris Umumkan Reset Hubungan Diplomatik di Tengah Ketidakpastian Global-Image-1
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengunjungi Kota Terlarang di Beijing, Tiongkok, 29 Januari 2026. /VCG

Bolong.id - Hubungan bilateral China dan Inggris mengalami penyesuaian arah yang signifikan setelah pertemuan tingkat tinggi antara Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di Beijing. 

Kunjungan Starmer merupakan kunjungan PM Inggris pertama sejak 2018, yang menandai langkah konkret menuju “reset” hubungan bilateral dengan penekanan pada pragmatisme dan kerja sama praktis di tengah dinamika geopolitik yang kompleks.

Dalam pernyataan bersama, kedua pemimpin menekankan komitmen untuk membangun kemitraan strategis jangka panjang yang lebih stabil dan saling menguntungkan, khususnya dalam bidang perdagangan, investasi, teknologi, serta tantangan global seperti perubahan iklim dan tata kelola internasional.

Starmer menggambarkan kunjungannya sebagai upaya untuk mengakhiri periode keterasingan dan ketegangan yang telah berlangsung hampir satu dekade, serta membuka babak baru dalam hubungan dua ekonomi besar dunia. Ia menegaskan bahwa keterlibatan yang pragmatis dengan China berada dalam kepentingan nasional Inggris dan dapat memperluas peluang ekonomi bagi perusahaan Inggris.

Salah satu hasil nyata dari pembicaraan adalah keputusan China menurunkan tarif impor wiski Inggris dari 10 % menjadi 5 %, mulai 2 Februari 2026, sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan perdagangan kedua negara. Langkah ini dipandang akan memberi keuntungan signifikan bagi sektor wiski Inggris, yang menyumbang sebagian besar ekspor minuman beralkoholnya ke China.

Reset hubungan ini terjadi di tengah tekanan dan kritik dari beberapa pihak di barat yang mengkhawatirkan implikasi strategis dari keterlibatan yang lebih dalam dengan China, tetapi pemerintah Inggris menekankan bahwa pendekatan pragmatis diperlukan untuk mempertahankan pengaruh dan kepentingan ekonomi Inggris di panggung global.

Informasi Seputar Tiongkok