Baca dalam 3 menit

Gawat, Industri Minyak Tiongkok dalam Krisis

Waktu Publish : 24 Jun 2020, 18:10 WIB
SHARE ARTIKEL

Industri Minyak Tiongkok Terancam - Image from : gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami

Beijing, Bolong.id – Perlambatan ekonomi dan rendahnya harga minyak dunia akibat pandemi COVID-19 telah menghantam keuangan perusahaan-perusahaan Tiongkok, termasuk industri minyak. Saat ini, industri minyak Tiongkok sedang dalam keadaan krisis.

Sejauh periode tahun 2020, perusahaan minyak Tiongkok telah mengalami gagal bayar dalam pasar obligasi luar negeri dengan nilai total mencapai US$ 4 miliar atau sekitar 58 triliun rupiah, dua kali lipat dari periode yang sama di tahun 2019. Pada bulan Mei 2020 lalu saja, MI Energy Holdings (MI能源控股有限公司), perusahaan eksplorasi minyak yang terdaftar di Hong Kong, pada obligasi berdenominasi dolar, menjadi korban pertama dari sektor minyak yang gagal membayar obligasi di pasar obligasi lepas pantai Tiongkok. Shandong Qingyuan Group (山东清源集团), perusahaan penyulingan minyak independen juga gagal membayar angsuran pokok pinjaman, senilai US$ 1 miliar atau sekitar 14.5 triliun rupiah.

Pada hari Senin (22/6/2020), perusahaan peralatan minyak dan layanan minyak, Hilong Holding (海隆控股), mengumumkan bahwa perusahaan tersebut juga sedang mengalami gagal bayar obligasi senilai US$ 165 juta atau setara dengan 2.4 triliun rupiah, setelah persentase dari peminjam tidaklah cukup untuk menukar uang kertas dengan utang baru. Tingkat minimum yang dapat diterima dari peminjam untuk menyetujui penawaran pertukaran utang adalah 80 persen, sementara hanya 63,45 persen peminjam yang telah setuju. ”Tanpa adanya penyempurnaan dari bursa, perusahaan tidak akan memiliki sarana pembiayaan alternatif yang tersedia untuk membayar kembali obligasi yang jatuh tempo pada 22 Juni 2020,” ungkap pihak Hiong Holding (海隆控股), dilansir dari oilprice.com

Hilong Holding (海隆控股) juga menilai, kegagalan membayar obligasi saat ini akan berdampak pada hutang lainnya. Menurut Fitch Rating, rendahnya harga minyak dunia dapat mengakibatkan penurunan jangka panjang dalam metrik kredit Hilong Holding (海隆控股), karena penurunan penjualan dan kontrak margin. Pada awal bulan Juni 2020 ini, Fitch Ratings telah menurunkan peringkat default emiten jangka panjang mata uang asing Hilong Holding, dari B ke CC, untuk mencerminkan risiko pembayaran kembali yang tinggi, terkait dengan uang kertas tanpa jaminan senilai US$ 165 juta (2.4 triliun rupiah), yang jatuh tempo pada 22 Juni 2020.

Terkait

business

Gawat, Industri Minyak Tiongkok dalam Krisis

  • Dwi
  • 24 Jun 2020
Banner Kanan
Logo follow bolong