Lama Baca 3 Menit

Semakin Sengit Aja, India Kini Blokir Aplikasi Tiongkok

30 June 2020, 16:43 WIB

Semakin Sengit Aja, India Kini Blokir Aplikasi Tiongkok-Image-1

India Blokir Aplikasi Tiongkok, Apa Akibatnya? - Image from : gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami

Mumbai, Bolong.id - India sedang berada dalam pertarungan yang sengit dengan Tiongkok, dari pegunungan Himalaya, sampai ke dunia maya. 59 aplikasi asal Tiongkok, termasuk aplikasi populer TikTok, sudah dilarang oleh New Delhi, karena masalah keamanan nasional. Hal ini secara signifikan jadi mempersempit pasar pertumbuhan perusahaan teknologi Tiongkok, bahkan mungkin membuat negara lainnya memberanikan diri untuk ikut memblokir produk Tiongkok.

Raksasa teknologi dari Alibaba, hingga Xiaomi, telah membuat terobosan yang signifikan di India. Untuk ByteDance (字节跳动), yang berbasis di Beijing, India telah menjadi penggerak terbesar instalasi TikTok, terhitung ada 611 juta unduhan, atau 30% dari total instalasi TikTok berasal dari India, menurut penyedia data SensorTower. Pemblokiran ini tentu akan mempengaruhi valuasi TikTok yang diperkirakan sebesar $ 110 miliar, atau setara dengan Rp 1.579 triliun rupiah. 

Untuk saat ini, perusahaan-perusahaan Tiongkok sepertinya lebih dipandang aman sebagai investor di negara-negara India. Pasalnya, daftar hitam tersebut mengecualikan startup paling bernilai di negara itu, termasuk raksasa pembayaran Paytm yang didukung oleh Ant Financial (蚂蚁金服), serta aplikasi pendidikan Byju, lalu ada juga Tencent sebagai salah satu investornya (腾讯). Secara total, ada 18 dari 30 unicorn India yang memiliki dana yang berasal dari Tiongkok, menurut data dari Gateway House, sebuah lembaga penelitian data yang berbasis di Mumbai. Tetapi aturan investasi baru dan meningkatnya sentimen anti-Tiongkok nanti bisa memperlambat aliran modal dari Tiongkok, dan pastinya itu akan mengganggu pertumbuhan perusahaan-perusahaan India.

Pemboikotan tersebut mungkin akan memicu negara lain untuk bertindak melawan Beijing juga. Reaksi Amerika Serikat terhadap Huawei (华为), misalnya, telah menular secara global. Sementara itu, bahayanya terletak pada pembalasan di dunia maya. Apabila diteruskan, konflik militer dan virtual ini bisa-bisa meluas ke aspek lainnya.