Bangkitnya Produk Tiongkok (bagian 1) HARGA MURAH… MURAHAN

logo clock 3 Menit logo clock 29-06-2020, 05:07

Ilustrasi. Foto: Shutterstock - Image from Shutterstock

Jakarta, Bolong.id - "Jika Anda katakan, barang produk China unggul di pasar dunia karena harga murah, Anda ketinggalan informasi lima tahun," kata Direktur China Skinny, Mark Tanner, kepada publik baru-baru ini.

Mark Tanner, pendiri sekaligus Direktur China Skinny. China Skinny adalah perusahaan riset konsumen berbasis di Shanghai, Tiongkok.

Dikutip dari Forbes, Minggu (28/6/2020) Mark Tanner menjabarkan detil barang produksi Tiongkok, yang tak banyak diketahui masyarakat internasional.

Terutama tentang barang "made in China" dan perilaku konsumen di Tiongkok. Dua hal itu sudah berubah secara cepat. Boleh dibilang sebagai revolusi.

Masyarakat internasional umumnya menyangka: Bahwa barang produk Tiongkok bisa menguasai dunia, terutama dukungan konsumen dalam negeri Tiongkok.

Semua tahu, masyarakat Tiongkok terkenal patriotik membela negaranya. Sehingga muncul asumsi dunia, bahwa warga Tiongkok pasti membeli produk dalam negeri, betapa pun jeleknya.

Ternyata asumsi tersebut, menurut Mark Tanner, meleset jauh. Konsumen Tiongkok tidak seperti itu.

Dia menyebut tahun 2011 sebagai tonggak sejarah revolusi sentimen pasar di Tiongkok. Karena, itulah tahun penting.

Pada 2011, menurutnya, lebih 70 persen penjualan ponsel di Tiongkok, dikuasai merek asing: Nokia, Samsung dan Apple. Produk asing membanjiri Tiongkok.

Mark Tanner menjelaskan, pada Oktober 2012, World Luxury Association mencatat: 86 persen konsumen China ogah membeli produk-produk dalam negeri. Karena kualitas buruk, meski harga murah.

Saat itu, barang-barang elektronik produk lokal, baru saja tumbuh. Produsen menjual barang-barang (termasuk ponsel) dengan meniru bentuk produk asing, tapi harganya 'dibanting' sangat murah.

Apa reaksi pasar?

"Konsumen tidak membeli produk dalam negeri," kata Mark Tanner. Meski harganya murah, kualitasnya jelek. Cepat rusak, model tiruan produk asing.
Mereka yang membeli produk dalam negeri (sekitar 10 - 30 persen) karena uang mereka kurang untuk membeli barang produk asing.

Warga Tiongkok waktu itu menganggap, produsen lokal menipu konsumen. Barang tidak berkualitas, dijual. Walau harganya murah. Kalau di Indonesia istilahnya 'murahan'.

Akibatnya, konsumen lokal Tiongkok merasa 'tidak bergengsi' jika membeli produk dalam negeri. Sebaliknya, barang produk asing, mereka anggap keren dan trendi. Walaupun harganya mahal.

Perilaku konsumen ini tidak diketahui masyarakat internasional. Mayoritas orang mengira, warga Tiongkok pasti beli produk dalam negeri. Dasar asumsinya: Patriotisme.

Ternyata tidak.

Hal ini bisa jadi pelajaran masyarakat internasional, termasuk Indonesia, bahwa anjuran: Belilah produk-produk dalam negeri, adalah anjuran sia-sia.

Perilaku konsumen tidak bisa diatur-atur begitu. (bersambung ke bagian 2)

Di sini: https://bolong.id/dw/0620/bangkitnya-produk-tiongkok-bagian-2-geliat-huawei-oppo--xiaomi


Penulis : Djono W. Oesman
Editor : Bryant

Terkait

Selama Pandemi COVID-19, Taipan Internet China Makin Kaya?

 

logo clock 21-10-2020, 17:23
logo clock Baca ini dalam 4 Menit
logo share

China Keluarkan UU Ekspor, Balasan untuk AS?

 

logo clock 21-10-2020, 12:52
logo clock Baca ini dalam 2 Menit
logo share

Pingin Mulai Bisnis Online? Ikuti Tips Ini

 

logo clock 21-10-2020, 11:36
logo clock Baca ini dalam 3 Menit
logo share

Kapas Australia Kena Dampak Ketegangan Perdagangan dengan China

 

logo clock 21-10-2020, 11:33
logo clock Baca ini dalam 4 Menit
logo share

Masa Pandemi Susah Uang, Ini 7 Tips Berhemat!

 

logo clock 21-10-2020, 11:19
logo clock Baca ini dalam 4 Menit
logo share

Viral