Bangkitnya Produk Tiongkok (bagian 2) GELIAT Huawei – Oppo - Xiaomi

logo clock 4 Menit logo clock 28-06-2020, 22:22

Ilustrasi. Foto: Android Headlines - Image from Android Headlines

Jakarta, Bolong.id – Barang-barang produk Tiongkok harga murah, justru konsumen dalam negeri ogah beli. Konsumen merasa tidak keren.

Dijelaskan Mark Tanner (Direktur China Skinny, periset konsumen), berdasar sikap konsumen Tiongkok itu, maka produsen bekerja keras. Membuat barang-barang berkualitas. Bahkan produk inovatif.

Hasilnya, dalam lima tahun perilaku konsumen Tiongkok berubah. Tahun 2016 perilaku konsumen berbalik arah. Drastis.

"Delapan dari sepuluh merek smartphone adalah China," kata Mark Tanner.

Artinya, ponsel produk China menguasai 80 persen pangsa pasar Tiongkok.

Suatu pembalikan kondisi yang luar biasa hebat.

Mark Tanner mengatakan: "Huawei dan Xiaomi di posisi volume penjualan teratas. Apple dan Samsung sudah tenggelam."

Pada saat yang sama, muncul Oppo, produk hi-tech Tiongkok.

Merek ini dengan cepat menarik minat konsumen. Pastinya, pihak produsen sudah mempelajari kelemahan produsen-produsen terdahulu yang "harga murah". Maka, dia kuatkan teknologi dan inovasi.

Hasilnya dahsyat. Belum lama setelah launching, Oppo sudah menempati posisi ke dua pada volume penjualan di Tiongkok. Jadinya: Huawei, Oppo, Xiaomi.

Berbasis konsumen dalam negeri (estimasi PBB, jumlah penduduk Tiongkok 1,41 miliar per akhir 2019), barang produk Tiongkok kemudian mendunia.

Menurut berbagai laporan, tujuh dari sepuluh merek smartphone teratas di dunia sekarang, adalah produk China.

Huawei, bukan hanya merek ponsel teratas di Tiongkok, tapi sekarang ditempatkan sebagai nomor dua di Eropa, dan nomor tiga di dunia.

Merek-merek China tidak lagi dipandang sebelah mata, seperti beberapa tahun lalu.

Mark Tanner menyebut empat faktor penting perubahan sentimen konsumen di Tiongkok:

1) Banyak barang merek China, secara drastis meningkatkan kualitas produk mereka.

Sejauh ini, inilah pendorong terpenting transisi ini: "Buatan China" tidak lagi berarti buruk, di China.

Dulunya, pabrikan China menemukan ceruk mengisi pasar dunia dengan produk-produk berbiaya rendah. Sehingga harga jualnya pun murah. Pricing oriented.

Lima tahun kemudian para produsen mengubah jurus. Mereka memproduksi barang-barang yang canggih, dan canggih. Quality oriented.

2) Konsumen China jadi percaya diri berdasar bukti, kualitas barang merek domestik.

Merek-merek asing bukan lagi dewa di Tiongkok (seperti dulu). Merek internasional, seperti Apple dan Starbucks, sudah 'redup' di Tiongkok.

Karena, beberapa produk China kelas atas, tidak lagi lebih rendah secara fungsional dibandingkan merek asing.

Penjualan Apple di Tiongkok terus merosot. Mark Tanner mengatakan: "Konsumen China tidak lagi butuh barang merek asing, demi pamer bahwa mereka keren."

3) Konsumen Tiongkok, membeli barang merek China semakin dipandang sebagai tindakan patriotik.

Di sinilah mulai muncul sentimen nasionalisme mereka. Munculnya sikap ini tidak dengan tiba-tiba. Bukan akibat anjuran pemerintah. Melainkan karena revolusi kualitas produk-produk buatan mereka.

Perubahan sosial perilaku konsumen Tiongkok ini, kemudian terbaca oleh elit politik setempat. Elit tinggal 'menumpangi' situasi yang sudah kondusif itu.

Ibu Negara, Peng Liyuan, kemana-mana mengenakan pakaian Tiongkok. produk dalam negeri. Barang-barang bawaan yang terlihat publik, juga made in China.

Ibu Negara, Peng Liyuan tidak bicara soal produk lokal. Barang-barang bawaannya, sudah membakar semangat rakyatnya mencintai produk dalam negeri.

4) Dari produksi barang, merembet ke produk budaya. Bioskop-bioskop domestik mengantarkan kebangkitan budaya China.

Waktu itu (2016) di sana sedang tumbuh karya-karya sinema domestik. Sinema karya domestik mendominasi bioskop-bioskop.

Pertumbuhan sinema itu, membuat warga Tiongkok meniru cara Hollywood mempromosikan merek-merek Barat, seperti Starbucks dan Nike. Mereka pun mempromosikan produk-produk China lewat bioskop-bioskop.

Mark Tanner membandingkan: Pada 2012, 47,6 persen box office di China adalah film lokal.

Pada 2016, menurutnya, naik jadi 62 persen. Itu tanda tumbuhnya kebanggaan nasional. Jiwa patriotisme mereka berkobar-kobar. (bersambung ke bagian 3)

Di sini: https://bolong.id/dw/0620/bangkitnya-produk-tiongkok-bagian-3-habis-rahasia-strategi


Penulis : Djono W. Oesman
Editor : Djono W. Oesman

Terkait

Film Perang 'Sacrifice', Bahan Bakar Box Office IMAX China Sepanjang Oktober 2020

 

logo clock 28-10-2020, 12:04
logo clock Baca ini dalam 3 Menit
logo share

Peningkatan Permintaan Pulihkan Ekonomi China, Bantu Pabrik Bangkit

 

logo clock 28-10-2020, 11:54
logo clock Baca ini dalam 3 Menit
logo share

Pelabuhan Teluk Beibu, Awal Babak Baru Pertumbuhan Ekonomi Guangxi

 

logo clock 28-10-2020, 11:51
logo clock Baca ini dalam 3 Menit
logo share

Perwakilan Bank Of China: Kita akan Percepat Laju Transformasi Digital Keuangan

 

logo clock 28-10-2020, 06:23
logo clock Baca ini dalam 2 Menit
logo share

Film Perang China ‘The Sacrifice' Raup Rp659,3 Miliar dalam 3 Hari

 

logo clock 27-10-2020, 09:22
logo clock Baca ini dalam 3 Menit
logo share

Viral