Baca dalam 5 menit

Gamer Dibawah Umur Dibatasi, Tim Esport di China Mulai Menyesuaikan

Waktu Publish : 05 Sep 2021, 10:37 WIB
Sumber : Sixth Tone
SHARE ARTIKEL

Pemain esport - Image from Internet. Segala keluhan mengenai hak cipta dapat menghubungi kami

Bolong.id - Ketika penggemar esports Tiongkok beradaptasi dengan pembatasan baru pemerintah pada anak di bawah umur untuk bermain game, ada kekhawatiran yang berkembang atas dampak pembatasan tersebut pada kompetisi profesional, di mana banyak peserta dari usia muda.

Dilansir dari Sixth Tone pada Jumat (3/9/2021), beberapa turnamen esports terkemuka di Tiongkok, seperti League of Legends, Honor of Kings, Game for Peace, dan Identity V, mengumumkan bahwa mereka akan mematuhi pembatasan baru dan larangan bagi gamer di bawah umur untuk ikut berkompetisi.

Keputusan itu muncul setelah pemerintah Tiongkok pada hari Rabu (1/9/2021) mengumumkan rencana untuk membatasi waktu bermain game untuk anak di bawah umur tiga jam seminggu, masing-masing satu jam pada akhir pekan dan hari libur nasional.

Banyak pemain esports memulai karirnya dari usia muda di Tiongkok, dan orang dalam industri mengatakan aturan baru kemungkinan besar akan membuat klub game tidak mungkin melatih pemain di bawah umur dan mempersiapkan mereka untuk turnamen.

Seorang pelatih League of Legends, dengan nama samaran Ye, mengatakan kepada Sixth Tone bahwa timnya telah melatih pemain di bawah 18 tahun selama lebih dari setahun, dengan rencana untuk meluncurkannya pada turnamen domestik tingkat tinggi 2022. Tapi sekarang, hampir banisa dipasti dia tidak akan berpartisipasi mengingat waktu pelatihan yang terbatas.

“Sekarang investasi klub (pada pemain) hampir sia-sia,” kata pelatih yang memiliki pengalaman sekitar lima tahun itu.
Ye mengatakan sekitar 27 pemain di klub sedang mempersiapkan kompetisi, beberapa di antaranya berusia di bawah 18 tahun.

Dia menambahkan bahwa klub menghabiskan lebih dari 2 juta yuan (sekitar Rp4,4 miliar) per tahun untuk biaya pelatihan, hidup, dan gaji untuk tim yang terdiri dari sekitar 20 pemain, dan masih mencari cara untuk mempekerjakan kembali pemain di bawah umur begitu mereka berusia 18 tahun.

Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok telah menjadi pemain utama esports. Negara ini memiliki sekitar 500 juta penggemar esports, dengan pendapatan dari sektor esports, termasuk kompetisi, kemungkinan akan melampaui 180 miliar yuan (sekitar Rp397,5 triliun) tahun ini.

Tiongkok kini juga memiliki tim esports nasional, yang memulai debutnya di Asian Games 2018 di Indonesia, dan sedang mempersiapkan perebutan medali pertama di Asian Games 2022 di kota timur Hangzhou. Sebagai profesi yang diakui secara resmi, kota-kota besar termasuk Beijing dan Shanghai juga telah meningkatkan upaya untuk menjadi pusat esports di Tiongkok.

Namun, seiring dengan popularitasnya yang meningkat, pemerintah menjadi semakin waspada terhadap sektor game online, hingga memberi label candu spiritual untuk remaja, dan kini telah memperketat pengawasan, termasuk menerapkan jam malam dan pengenalan wajah untuk mencegah anak di bawah umur dari waktu bermain yang berlebihan.

Namun, komite manajemen esports dari Asosiasi Administrasi Kebudayaan Tiongkok pada hari Selasa (31/9/2021) mengatakan bahwa penting untuk memperlakukan video game dan esports secara berbeda. Pihak berwenang mengatakan negara dapat mengembangkan budaya esports yang sehat yang dapat bermanfaat bagi individu.

Profesional seperti Ye percaya bahwa meskipun menerapkan batasan waktu pada anak di bawah umur dapat merugikan tim mereka dalam jangka pendek, hal itu dapat memiliki pengaruh positif dalam jangka panjang. Tim esport, katanya, kini bisa melatih gamer yang minimal tamat pendidikan menengah dan menunjukkan pola pikir yang relatif matang.

Merekrut pemain yang lebih tua juga dapat membantu mereka mengamankan jalur karier setelah mereka keluar dari industri esports, katanya. Tanpa landasan akademis, pemain muda yang tidak berhasil kebanyakan memilih menjadi live streamer esports atau bekerja sebagai pemain bayaran untuk meningkatkan level permainan bagi orang lain.

“Industri esports memiliki kecenderungan yang tidak wajar untuk percaya bahwa semakin muda pemain, semakin baik,” kata Ye. “Menjadi atlet esports adalah jalan satu arah. Hanya sekitar satu dari setiap 100 hingga 200 pesaing esports yang berhasil masuk ke turnamen domestik tingkat atas. Begitu mereka gagal … mereka tidak bisa berbuat banyak selain esports.” (*)


Informasi Seputar Tiongkok

Load more
Banner Kanan
Logo follow bolong