Baca dalam 3 menit

Dampak Pandemi Bagi Pemilik Restoran China di Itali

Waktu Publish : 28 Nov 2020, 09:30 WIB
SHARE ARTIKEL

Shu - Image from Xinhuanet

Italia, Bolong.id - Kenangan yang masih bergema di benak Shu Jianguo adalah saat makan malam di restorannya yang bernama Dao, yang mempertemukan puluhan koki yang tinggal di Roma dalam dengan sikap solidaritas yang besar selama pandemi ini.

Seperti banyak restoran di Italia, bisnis Dao terkena dampak COVID-19 karena lockdown di negara itu pada bulan Maret. Shu mengatakan bahwa dalam minggu-minggu traumatis itu, bisnis di restorannya anjlok 75 persen.

"Saya sangat senang dengan apa yang terjadi pada hari itu di bulan Februari," kata Shu yang berusia 50 tahun kepada Xinhua, mengingat bahwa 70 koki, pemilik restoran, dan pejabat pemerintah muncul untuk makan malam. "Saya telah tinggal di Italia sejak awal 1990-an, dan dukungan dari rekan kerja serta orang lain menunjukkan kepada saya bahwa saya adalah bagian dari mereka."

Dilansir dari Xinhuanet, semua restoran di Italia diperintahkan untuk ditutup sementara waktu. Namun, sikap solidaritas ini memiliki dampak yang baik untuk Shu dan semua koki secara psikologis.

Koki - Image from Xinhuanet

Dua koki asal Itali, Iside De Cesare, koki dari restoran berbintang Michelin La Parolina, dan Dino De Bellis dari VyTA Enoteca, salah satu pengajar masakan kelas atas di Roma - berkolaborasi dengan Zhu Guangqiang, koki restoran Dao.

"Yang akhirnya kami dapatkan adalah menu revolusioner yang tidak ada di tempat lain," kata Shu. Selama ini, kata dia, menu tersebut menjadi hits di kalangan tamunya.

Perkembangan menu inovatif "enam tangan" mengalihkan perhatian Shu, istrinya Xia Feifei, dan putra mereka dari dampak pandemi. Tapi hanya sedikit. Shu, yang mengatakan bahwa dia telah mempelajari trik-trik perdagangan restoran dari master chef Tiongkok yang sekarang sudah pensiun, Zhan Xiangzhong setelah kedatangannya di Roma pada 1990-an. Bagi pria yang terbiasa bekerja, lockdown adalah tantangan.

Awal pandemi COVID-19 mengingatkan Shu akan pengalamannya selama epidemi SARS (sindrom pernafasan akut yang parah) tahun 2003, yang membuat ngeri para pengunjung Italia selama berbulan-bulan. Tetapi virus corona ternyata jauh lebih buruk dari perkiraannya.

Shu - Image from Xinhuanet

"Kupikir itu akan bertahan dua bulan, mungkin tiga bulan," kata Shu. Saya mengalami keraguan, tetapi saya terus mengingatkan diri saya untuk tetap tenang dan ini akan berlalu.

"Satu keuntungan besar yang kami miliki sekarang dibandingkan dengan tahun 2003 adalah kami mendapat dukungan dari orang-orang yang mengenal kami."

Shu mengatakan dia berharap pandemi COVID-19 segera usai dan dia dapat kembali ke misi aslinya untuk mengubah cara orang Italia memandang masakan Tiongkok. Bersama dengan Zhu - chefnya, yang sembilan tahun lalu menerima China Gold Kitchen Award dari Tiongkok Cuisine Association - Shu telah membuat Dao mendapatkan reputasi sebagai salah satu restoran Tiongkok kelas atas terbaik di Italia. (*)

Terkait

lifestyle

20 Restoran Muslim Direkomendasikan di Shanghai

  • Djono W. Oesman
  • 14 May 2021

lifestyle

POTRET: Restoran Ini Sajikan Tangyuan Jelang Cap Go Meh

  • Lupita
  • 26 Feb 2021

news

Makanan Siap Saji Jadi Pilihan Saat Imlek di Tiongkok

  • Alifa Asnia
  • 30 Jan 2021

news

Restoran Di China Viral Karena Deskripsi Menu yang Ter...

  • Visco Joostensz
  • 20 Jan 2021

lifestyle

3 Olahan Telur Ala Resto China Untuk Sarapan, Mudah Dibuat!

  • Lupita
  • 05 Jan 2021

lifestyle

5 Restoran Chinese Food Halal di Jakarta, Enak Semua

  • Lupita
  • 03 Jan 2021
Banner Kanan
Logo follow bolong