
Bolong.id - Di sejumlah daerah berpenduduk Muslim di Tiongkok, Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga momen sosial yang penuh makna. Suasana religius berpadu dengan tradisi lokal serta kebersamaan lintas generasi, menciptakan perayaan yang khas.
Dilansir dari berbagai sumber, Ramadan terasa istimewa karena bertepatan dengan Tahun Baru Imlek. Perpaduan dua momen besar ini menjadi ajang “reuni besar” bagi sekitar 25 juta Muslim, terutama dari etnis Hui dan Uyghur.
Di sekitar masjid, bazar Ramadan menjadi pusat keramaian. Aroma daging panggang, mi, dan teh susu memenuhi udara.
Warga setempat dan pendatang saling berbaur menikmati hidangan khas yang hanya hadir di musim Ramadan, menciptakan suasana hangat dan semarak.
Bazar Ramadan sebagai Ruang Sosial
Bazar Ramadan tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi jual beli, tetapi juga menjadi ruang pertemuan sosial. Pasar ini biasanya dibuka beberapa hari sebelum Ramadan dan tetap berlangsung hingga setelah Idulfitri.
Beragam makanan seperti daging panggang, kue, mi, dan teh susu dijajakan untuk kebutuhan berbuka.
Menariknya, pasar takjil di berbagai daerah juga menarik perhatian luas. Ribuan orang, baik Muslim maupun non-Muslim, turut meramaikan jalanan yang dipenuhi tenda makanan berbuka.
Suasana ini mencerminkan toleransi yang hidup dan memperlihatkan bagaimana Ramadan di Tiongkok menjadi jembatan budaya yang mempererat hubungan antar komunitas. (*)
Informasi Seputar Tiongkok
Advertisement

