Lama Baca 4 Menit

Tim Ilmuwan China Temukan Mutasi Penting pada Virus Ebola

27 January 2026, 19:50 WIB

Tim Ilmuwan China Temukan Mutasi Penting pada Virus Ebola-Image-1

Seorang tenaga kesehatan melakukan disinfeksi di pusat perawatan Ebola di zona kesehatan Bulape, Republik Demokratik (RD) Kongo, pada 17 Oktober 2025. (Xinhua/Organisasi Kesehatan Dunia)

   GUANGZHOU, 27 Januari (Xinhua) -- Para peneliti China sukses mengungkap mutasi penting pada virus Ebola yang secara signifikan meningkatkan daya infeksinya dalam wabah besar, memberikan wawasan baru bagi pengawasan epidemi serta pengembangan obat.

   Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cell ini dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Profesor Qian Jun dari Universitas Sun Yat-sen, bekerja sama dengan tim peneliti dari Rumah Sakit Rakyat Kedelapan Guangzhou di bawah naungan Universitas Kedokteran Guangzhou, yang keduanya berlokasi di China selatan, Rumah Sakit Pertama Universitas Jilin di China timur laut, serta tim lain dari Universitas Sun Yat-sen, demikian disampaikan tim peneliti kepada Xinhua pada Senin (26/1).

   "Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam wabah besar penyakit menular baru, pengawasan genomik secara waktu nyata (real-time) dan analisis evolusi patogen merupakan hal yang krusial," kata Qian.

   "Hal ini tidak hanya dapat memberikan peringatan tentang perubahan risiko penularan, tetapi juga untuk menilai secara prospektif efektivitas obat-obatan dan vaksin yang ada, memandu kita untuk menyesuaikan strategi pengendalian secara preventif."

   Penelitian ini berfokus pada wabah penyakit virus Ebola (Ebola viral disease/EVD) di Republik Demokratik (RD) Kongo pada 2018 hingga 2020, yang merupakan wabah terbesar kedua dalam sejarah dan menyebabkan lebih dari 3.000 kasus infeksi serta lebih dari 2.000 kematian. Pertanyaan utama yang mendorong penelitian ini adalah apakah, selain dampak tantangan layanan kesehatan setempat, evolusi virus itu sendiri turut berkontribusi terhadap lamanya durasi wabah tersebut?

   "Kami telah lama mengetahui bahwa mutasi virus yang penting kerap menjadi pendorong tak terlihat yang mempercepat penularan dalam wabah besar. Setelah meneliti Ebola selama lebih dari satu dekade, kami perlu menyelidiki apakah pola mutasi serupa juga terjadi pada virus ini," ujar Qian, menjelaskan motivasi timnya.

   Pada 2022, tim peneliti menganalisis 480 genom lengkap virus Ebola dan menemukan bahwa sebuah varian yang membawa mutasi spesifik pada glikoprotein virus, yang diberi nama GP-V75A, telah muncul pada tahap awal epidemi di RD Kongo. Varian ini dengan cepat menggantikan galur asli, dan peningkatan prevalensinya sangat selaras dengan lonjakan jumlah kasus, yang mengindikasikan adanya keunggulan dalam penularan, menurut tim peneliti.

   Eksperimen selanjutnya yang menggunakan berbagai model mengonfirmasi dampak biologis dari mutasi tersebut. Hasilnya menunjukkan GP-V75A secara signifikan meningkatkan kemampuan virus untuk menginfeksi berbagai jenis sel inang serta tikus.

   Selain itu, penelitian ini mengungkap potensi masalah klinis, khususnya bahwa mutasi GP-V75A telah mengurangi efektivitas antivirus dari beberapa antibodi terapeutik yang ada dan inhibitor masuk molekul kecil, yang menunjukkan adanya kemungkinan risiko resistensi obat.

   Temuan-temuan ini menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap genom virus saat wabah berlangsung guna mengantisipasi ancaman evolusi serta memberikan informasi tentang pengembangan langkah-langkah penanggulangan berspektrum luas, kata tim peneliti.

   Makalah berjudul "Karakterisasi Molekuler Substitusi Glikoprotein V75A Virus Ebola pada Epidemi 2018-2020 (Molecular Characterization of Ebola Virus Glycoprotein V75A Substitution in the 2018-2020 Epidemic)" ini tersedia secara daring.  Selesai