Beijing, Bolong.id - Salah satu strategi perang Sun Tzu, seranglah rencana atau strategi musuh. Kemudian dilanjutkan, seranglah musuh. Bukan terbalik.
Dilansir dari Moderndiplomacy.eu, seperti diungkapkan di sini di seri yang lalu, Sun Tzu tidak selalu melakukan serangan langsung. Atau perang. Melainkan strategi perang.
Jika strategi Sun Tzu itu diterapkan, dan menang perang, itulah yang menurut Sun Tzu terbaik. Alhasil, menang, tanpa berperang habis-habisan di medan perang. Efektif-efisien.
Maka, seranglah strategi musuh. Untuk mengetahui strategi musuh, dibutuhkan intelijen yang handal. Dari laporan intelijen itulah strategi musuh diketahui. Lalu, seranglah strategi itu.
Tahapannya ada tiga, begini:
Pertama, seranglah strategi musuh, termasuk aliansi mereka.
Kedua, menyerang musuh pada jantung pertahanannya.
Ketiga, seranglah kota-kota musuh. Artinya, perang kota.
Maka, musuh sudah lemah ketika perang kota. Moral prajurit musuh sudah jatuh di saat perang kota. Sehingga gampang dilumpuhkan.
Strategi model itu digunakan tentara Amerika Serikat (AS) ketika menyerang Afghanistan pada 2001.
Dibagi menjadi 3 fase;
Pertama, operasi intelijen penghapusan Al-Qaeda yang didukung Taliban (penguasa Afghanistan).
Kedua, operasi intelijen mencegah kebangkitan dan kemunculan kembali Al-Qaeda sampai 2009.
Ketiga, setelah Al-Qaeda lemah dilakukan operasi militer oleh pasukan ISAF (International Security Assistance Force).
ISAF, pasukan bantuan keamanan internasional, dipimpin NATO (North Atlantic Treaty Organization) di Afghanistan, sedangkan NATO bentukan AS. (*)
Advertisement