Lama Baca 2 Menit

Gaya Sun Tzu 4: Saat Kita Jauh, Yakinkan Musuh, Kita Dekat

22 October 2022, 08:00 WIB

Gaya Sun Tzu 4: Saat Kita Jauh, Yakinkan Musuh, Kita Dekat-Image-1
Sun Tzu - Internet 

Beijing, Bolong.id - Seni perang Sun Tzu (hidup pada 551 sampai 479 SM) dipelajari warga dunia, tidak hanya sebagai strategi perang. Melainkan juga strategi bisnis, politik, hukum, olahraga, dan kehidupan. 

Dilansir dari Intelectual Tekaout, setelah diangkat menjadi jenderal, Sun Tzu menunjukkan keefektifan filosofinya. Ia memimpin pasukan dan memenangkan pertempuran yang mengesankan di negara bagian Chu. 

Ilmu Sun Tzu kemudian dibicarakan dari mulut ke mulut di Tiongkok, turun-temurun, ribuan tahun, sampai lahir budaya tulis, kemudian dicatat.

Di zaman modern, dibukukan berjudul The Art of War for the King of Wu. 

Buku ini kontroversi, baik di internasional, bahkan di Tiongkok. Karena di zaman Sun Tzu hidup, diduga belum ada budaya tulis.  Benarkah itu ilmu Sun Tzu? Apakah Sun Tzu memang ada?

Tapi, warga Tiongkok yakin, bahwa itu ilmu peninggalan Sun Tzu. Yang diceritakan turun-temurun.

Bahwa ada kemungkin distorsi, antara isi buku dengan ajaran seni perang Sun Tzu yang sebenarnya, bisa saja terjadi. Tapi, setidaknya, diyakini bahwa itulah ilmu Sun Tzu.

Bukunya terdiri dari 13 bab. Masing-masing membahas aspek tertentu dari perang dan strategi. 

Meskipun ditulis dalam kalimat yang singkat dan padat, kata-katanya yang singkat selalu mengandung makna yang dalam. 

Akibatnya, The Art of War  berdampak signifikan pada pemikiran militer Timur dan Barat, yang berlanjut hingga hari ini.

Berikut adalah salah satu strategi perang oleh Sun Tzu : 

“Semua peperangan didasarkan pada penipuan. Oleh karena itu, ketika mampu menyerang, kita harus terlihat tidak mampu." 

“Ketika menggunakan kekuatan kita, kita harus tampak tidak aktif. Ketika kita dekat, kita harus membuat musuh percaya bahwa kita jauh.”

"Ketika kita masih jauh dari musuh, kita harus membuatnya percaya bahwa kita sudah dekat.” (*)