Baca dalam 4 menit

Asal Usul Festival Merangkai Bunga Etnis Yi

Waktu Publish : 11 Sep 2021, 14:18 WIB
SHARE ARTIKEL

Para gadis etnis Yi - Image from Sohu

Bolong.id - Festival Merangkai Bunga adalah festival tradisional etnis minoritas Yi yang khas. Kegiatan festival di Distrik Tanhuashan di Kabupaten Dayao, Provinsi Yunnan ini diselenggarakan sangat megah. Orang-orang yang mengenakan kostum pesta berkumpul di Gunung Tanhua untuk bernyanyi dan menari bersama, mengadakan persembahan bunga, dan saling menaruh bunga azalea untuk mengekspresikan harapan baik dan berdoa untuk kehidupan yang baik.

Dilansir dari chinawenhua.com.cn, menurut legenda, dahulu kala, seorang gadis bernama Miyilu keluar dari Gunung Tanhua. Dia bertemu serigala saat menggembala domba di gunung. Untungnya, pemburu muda bernama Charlieruo tiba tepat waktu dan membunuh serigala dan menyelamatkan domba. Miyilu berterima kasih atas bantuannya, jadi dia memetik azalea putih dan memberikannya kepada Charlieruo. Setelah menerima bunga itu, si pemburu menaruh bunga itu di kepala Miyalu, dan keduanya jatuh cinta.

Bunga azalea - Image from Wikimedia

Namun, kepala suku yang kejam telah lama menyukai Miyilu, tetapi gadis itu menolak. Ketika dia mengetahui bahwa Miyilu dan Charlieruo sedang jatuh cinta, dia marah. Jadi, dia membuat rencana untuk membangun Taman Peri Surgawi dan berpura-pura mengundang peri untuk mengajari gadis-gadis itu menenun dan menyulam.

Padahal, gadis itu akan dibunuh dengan diracun setelah datang ke taman itu. Pada hari Miyilu dan Charlieruo bertunangan, kepala suku mengirim seseorang untuk memberi tahu ibunya bahwa Miyilu dipilih oleh Taman Peri Surgawi dan harus segera dikirim dalam waktu tiga hari.

Setelah Miyilu mengetahuinya, dia pergi mengucapkan selamat tinggal kepada orang tuanya sambil menangis, mengambil bunga putih dari gunung dan meletakkannya di kepalanya, dan pergi ke Taman Peri Surgawi sendirian.

Ketika dia tiba di taman, dia diam-diam melepas bunga putih di kepalanya, merendamnya di gelas anggur. Kemudian dia mengangkat gelas dan berkata "Tuan, demi cintaku dan dintamu, mari minum bersama-sama!" kepala suku mendengarnya dengan senang hati dan meminumnya. Setelah beberapa saat, keduanya mati keracunan.

Ternyata bunga ini sangat beracun. Untuk menyingkirkan kepala suku yang kejam dan melindungi anak perempuan Yi agar tidak diinjak-injak, Miyilu yang pintar memberikan hidupnya dengan berani.

Charlieruo mendengar bahwa Miyilu telah memasuki Taman Peri Surgawi, dan sangat marah. Dia mengikat tujuh pisau tajam untuk dirinya sendiri, memegang busur dan anak panah, dan bergegas menuju ke taman itu. Charlieruo akhirnya menemukan Miyailu yang mati, dan pergi ke Gunung Tanhua.

Dia berjalan dan menangis dan memanggil nama Miyilu. Dia menangis hingga air matanya kering, dan matanya berlumuran darah, dan darah yang menetes dari matanya itu menodai bunga azalea di Gunung Tanhua setetes demi setetes. Sejak itu, azalea yang mekar di musim semi Gunung Tanhua telah berubah menjadi merah darah.

Pria meletakkan bunga di kepala wanita etnis Yi - Image from Sohu

Hari kedelapan bulan kedua tahun lunar, ditetapkan sebagai hari untuk memperingati Miyilu oleh etnis Yi. Mereka merangkai bunga di kepala mereka dan merangkai bunga untuk memberkati keberuntungan.

Sekarang, Festival Merangkai Bunga adalah kesempatan yang baik bagi pria dan wanita muda untuk bertemu dan memilih pasangan. Jika seorang gadis menyukai seorang pria muda, ia akan membiarkan pria itu menaruh bunga di kepalanya; Jika gadis itu mengelak dan menolak maka pria itu harus mundur. (*)



Informasi Seputar Tiongkok

Terkait

culture

Perayaan Festival Obor Unik Etnis Yi

  • Lupita
  • 25 Jul 2021
Load more
Banner Kanan
Logo follow bolong