Lama Baca 5 Menit

Klenteng Boen Tek Bio, Tempat Kebajikan yang Tetap Bertahan

17 July 2022, 16:56 WIB

Klenteng Boen Tek Bio, Tempat Kebajikan yang Tetap Bertahan-Image-1

Bolong.id – Klenteng Boen Tek Bio tampak mencolok dengan dominasi warna merah terang, bagian atap utamanya menampakkan sepasang naga mengapit mutiara yang menyala. Lampion-lampion merah bergelantungan di langit-langitnya.

Dilansir dari berbagai sumber, klenteng ini menghadap ke selatan. Jika masuk ke halaman depan yang berubin merah, Anda akan menjumpai dua patung singa dari batu andesit abu-abu. Menara pembakaran kertas sembahyang bercat merah ada di sisi kanan dan kiri halaman. Di tengahnya terdapat pedupaan atau hiolo utama.

Pedupaan berwarna emas ini merupakan tempat pembakaran hio bagi Tuhan Yang Maha Esa (Dewa Langit). Sementara, bangunan utama kelenteng terdiri dari ruang dewa utama yang dikelilingi oleh serambi bagi dewa-dewi pendukung.

Kelenteng Boen Tek Bio adalah klenteng tertua di kawasan pecinan, kota Tangerang. Kehadirannya tak bisa dilepaskan dari kedatangan orang-orang Tionghoa yang dikenal dengan sebutan “Tiongkok Benteng”.

Menurut Sudemi seiring dengan kedatangan mereka, masuk pula ajaran Kong Hu Cu. Di tempat baru ini mereka membangun permukiman dalam bentuk petak sembilan dengan Bio (klenteng) sebagai pusatnya. Mula-mula yang dibangun Kelenteng Boen Tek Bio. Menyusul kemudian tiga kelenteng lain dibangun di Tangerang.

Selain itu Sudemi juga menjelaskan bahwa kelenteng Boen Tek Bio dibangun dan didedikasikan untuk menghormati Dewi Kwan Im, salah satu Shen Ming yang dihormati umat Khonghucu. 

Boen Tek Bio sendiri berasal dari bahasa Hokkian yang memiliki arti khusus. Boen berarti intelektual, tek berarti kebajikan, dan bio berarti tempat ibadah. Secara etimologi, Boen Tek Bio berarti tempat bagi umat manusia untuk menjadi insan yang penuh kebajikan dan intelektual.

Ada beberapa versi mengenai kapan dibangunnya Kelenteng Boen Tek Bio. Klenteng Boen Tek Bio dibangun sekitar akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18. Masyarakat Tionghoa setempat meyakini kelenteng semula berbentuk sebuah rumah bambu. Pemugaran kemudian beberapa kali dilakukan.

Kelenteng yang berlokasi di jalan Bhakti, kota Tangerang, ini direnovasi besar-besaran pada 1844. Bangunan yang pertama dibangun adalah bagian tengah klenteng saat ini. Bangunan inilah yang mengalami renovasi tahun 1844. Ahli bangunan dari Tiongkok sengaja didatangkan sehingga bangunan kelenteng yang awalnya hanya berupa rumah menjadi seperti yang bisa dilihat seperti saat ini. Sementara bangunan di sisi kiri-kanan serta di belakang dibangun kemudian. Bangunan sisi kiri-kanan dibuat tahun 1875, sedangkan bangunan di bagian belakang dibangun tahun 1904.

Saat renovasi tahun 1844, keempat kimsin dewa-dewi yang disembah di kelenteng ini, yakni Dewi Kwan Im Hud Couw, Kongco Kha Lam Ya, Kongco Hok Tek Ceng Sin, dan Kongco Kwan Seng Tee Kun dipindahkan ke Kelenteng Boen San Bio di daerah Pasar Baru, Tangerang.

Setelah renovasi selesai, keempat patung kimsin dikembalikan ke Kelenteng Boen Tek Bio melalui prosesi arak-arakan tandu (joli). Prosesi arak-arakan pertama, yang dilakukan tahun 1856, kemudian menjadi tradisi rutin dan dikenal dengan istilah Gotong Toapekong.

Salah satu yang menarik pada Kelenteng Boen Tek Bio adalah berbagai atribut di dalamnya. Mulai dari tempat sembahyang hingga papan didatangkan langsung dari Tiongkok. Termasuk dua patung singa di halaman depan kelenteng. Patung yang biasa disebut Ciok Say ini berasal dari sumbangan tahun 1827.

Stefanus menjelaskan bahwa sepasang patung singa ini biasa ditempatkan di depan kuil Tiongkok, satu melambangkan unsur yang (jantan) digambarkan dengan mulut terbuka dan sebuah bola kecil, satu lagi sebagai unsur yin, betina, dengan mulut tertutup dan anak singa di bawah kakinya.

Pun sebuah lonceng di sebelah barat laut. Lonceng ini adalah cetakan dari perunggu utuh dengan nama Wende Miao dalam aksara mandarin yang dilebur di Tiongkok.

Kelenteng yang pernah berubah nama menjadi Vihara Padumuttara pada masa Orde Baru ini terletak di kawasan Pasar Lama Tangerang. Kelenteng Boen Tek Bio terakhir kali mengadakan perayaan Toapekong pada 6 Oktober 2012.

Perayaan berikutnya akan diadakan lagi pada 2024. Kendati begitu tak perlu menunggu lama untuk menyaksikan perayaan di sana. Pasalnya setiap tahun kelenteng ini rutin mengadakan berbagai perayaan seperti Peh Cun, yaitu lomba perahu naga yang diadakan di Kali Cisadane. (*)


Informasi Seputar Tiongkok