Lama Baca 3 Menit

Perlombaan Senjata Semenanjung Korea Memanas, China Dihadapkan pada Pilihan Strategis Baru

08 January 2026, 10:29 WIB

Perlombaan Senjata Semenanjung Korea Memanas, China Dihadapkan pada Pilihan Strategis Baru-Image-1
Illustration: Henry Wong

Bolong.id - Perlombaan militer di Semenanjung Korea semakin intens pada awal 2026 ini menimbulkan tantangan strategis baru bagi China di tengah dinamika keamanan regional yang terus berubah. Hal ini dipicu oleh keterlibatan sekutu AS di kawasan dan perubahan postur militer Korea Utara serta Korea Selatan, yang bersama-sama mempertegang lingkungan strategis di wilayah itu. 

Dilansir SCMP, Kamis (08/01/26), Korea Selatan, di bawah pemerintahan Presiden Lee Jae Myung, semakin mendekat pada strategi keamanan aliansi dengan Amerika Serikat yang mendorong negara-negara Indo-Pasifik untuk meningkatkan kontribusi pertahanan kolektif mereka. Seoul sedang memperkuat kemampuan militernya dengan persetujuan Washington untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir dan investasi pada sistem pertahanan konvensional guna menghadapi ancaman dari Utara.

Sementara itu, hubungan Beijing dan Pyongyang telah mengalami pemulihan setelah beberapa tahun ketegangan yang dipicu oleh uji coba nuklir dan rudal Korea Utara. Kunjungan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un ke China pada parade militer di Tiananmen Square pada 2025 menunjukkan adanya pemulihan hubungan yang sebelumnya renggang karena Beijing memandang serangkaian uji coba senjata Pyongyang sebagai sumber ketidakstabilan. 

China turut merespons perkembangan di Semenanjung Korea dengan menyesuaikan sikapnya terhadap isu nuklir di kawasan tersebut. Beijing dilaporkan telah mengubah beberapa posisi sebelumnya dalam menanggapi keterbukaan Pyongyang soal kemajuan program nuklirnya, yang mencerminkan kompleksitas hubungan bilateral di tengah pergeseran keamanan regional. 

Pakar keamanan menilai China kini berada di persimpangan antara menjaga stabilitas regional dan menghadapi tekanan eksternal dari sekutu AS di kawasan pertama pulau (first island chain). Tuntutan Seoul untuk peran mediasi yang lebih aktif bagi China menyoroti peran sentral Beijing dalam upaya meredakan ketegangan di Semenanjung Korea, sekaligus menegaskan pentingnya Beijing dalam menjaga perdamaian dan keseimbangan strategis di Asia Timur. 

Perkembangan terkini ini terjadi di tengah ketegangan lain di kawasan, termasuk peluncuran misil oleh Korea Utara dan kunjungan presiden Korea Selatan ke China untuk membahas isu bilateral dan keamanan regional. Ke depan, bagaimana China menanggapi perlombaan persenjataan dan dinamika geopolitik di Semenanjung Korea akan menjadi salah satu indikator penting dalam arsitektur keamanan Indo-Pasifik tahun 2026.(*) 

Informasi Seputar Tiongkok