Lama Baca 9 Menit

Opini : Kereta Cepat dan Perjalanan Baru Indonesia, Antara Kecepatan, Harapan, dan Masa Depan Mobilitas

13 October 2025, 08:10 WIB

Opini : Kereta Cepat dan Perjalanan Baru Indonesia, Antara Kecepatan, Harapan, dan Masa Depan Mobilitas-Image-1
Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Foto: Pradita Utama/detikcom)

Oleh : Safriady 

Bolong.Id - Di peron Stasiun Halim yang bersih dan futuristik, deru lembut “Whoosh” terdengar seperti napas masa depan. Dalam hitungan menit, rangkaian kereta cepat berwarna perak-merah itu meluncur meninggalkan ibu kota, menembus lanskap beton, sawah, dan bukit menuju Bandung. Dalam waktu tak lebih dari 40 menit, jarak yang dulu memakan waktu tiga jam kini seolah terlipat membawa serta imajinasi tentang Indonesia yang bergerak cepat.

Setahun sudah Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) beroperasi sejak diresmikan pada Oktober 2023. Dalam kurun waktu itu, banyak hal berubah bukan hanya cara orang bepergian, tetapi juga cara bangsa ini memandang masa depan mobilitas. “Whoosh”, akronim dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Handal, bukan sekadar proyek transportasi, melainkan simbol dari ambisi baru Indonesia: menjadi negara yang mampu mengubah kecepatan menjadi kekuatan.

Hingga awal Oktober 2025, lebih dari lima juta penumpang telah menikmati layanan KCJB. Angka ini melampaui target awal PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator proyek hasil kerja sama strategis antara Indonesia dan Tiongkok.

Setiap harinya, sekitar 30 ribu orang menumpang Whoosh, dengan tingkat keterisian mencapai 80 persen pada jam sibuk. Bagi sebagian besar pengguna, pengalaman menaiki kereta ini bukan sekadar perjalanan, melainkan bentuk pertemuan dengan masa depan.

Dari Cita-cita ke Rel Baja

Gagasan menghadirkan kereta cepat di Indonesia telah muncul jauh sebelum proyek ini terealisasi. Dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional, visi besar itu sudah disiapkan menciptakan sistem transportasi massal modern, efisien, dan terintegrasi yang mampu menandingi mobilitas negara-negara maju. Namun, seperti banyak mimpi besar lainnya, jalan menuju realisasi penuh liku, dipenuhi perdebatan ekonomi, politik, dan teknologi.

Ketika akhirnya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung mulai dikerjakan pada 2016, banyak pihak memandangnya sebagai langkah berani, bahkan sebagian menilai, terlalu berani. Dengan nilai investasi sekitar Rp 114 triliun dan keterlibatan teknologi Tiongkok melalui skema business-to-business, proyek ini menjadi uji coba pertama Indonesia dalam membangun infrastruktur transportasi berkecepatan tinggi di kawasan Asia Tenggara. 

Kini, setelah resmi beroperasi sejak 2023, Whoosh (akronim dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat) bukan lagi sekadar jargon promosi. Ia menjadi bukti nyata bahwa Indonesia mampu melakukan lompatan infrastruktur dan teknologi yang selama ini terasa jauh dari jangkauan. Dalam waktu kurang dari 45 menit, jarak Jakarta-Bandung yang biasanya ditempuh 3 jam lebih, kini seolah terlipat dalam waktu.

Transformasi Mobilitas dan Ekonomi Baru 

Kereta cepat membuka dimensi baru dalam ekonomi mobilitas Indonesia. Bukan hanya dari sisi transportasi penumpang, tapi juga dari ekosistem industri yang mendukungnya. Dari perawatan rel, manufaktur komponen, sistem kelistrikan, hingga digitalisasi tiket dan layanan, Whoosh menciptakan efek berganda terhadap ekonomi.

Selain itu, hadirnya kereta cepat memicu lahirnya poros ekonomi baru di kawasan yang sebelumnya tak banyak tersentuh investasi besar. Daerah seperti Padalarang, Walini, hingga Tegalluar kini menjadi magnet pembangunan baru muncul rencana pembangunan kota-kota satelit, pusat riset, serta kawasan inovasi hijau. 

Menurut data dari Kementerian Perhubungan, dalam jangka menengah, proyek ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi di sepanjang jalur lintasan hingga 1,5-2 persen per tahun. Sementara dari aspek sosial, peningkatan konektivitas diharapkan mengurangi tekanan urbanisasi di Jakarta dan membuka peluang bagi Bandung dan sekitarnya untuk berkembang menjadi extended metropolitan area

Dimensi Budaya: Ketika Waktu Menjadi Gaya Hidup

Kecepatan sering kali melahirkan paradoks. Di satu sisi, ia menciptakan efisiensi dan produktivitas. Di sisi lain, ia bisa menjauhkan manusia dari pengalaman perjalanan itu sendiri. Di era “superfast mobility”, waktu tempuh yang pendek bisa mengaburkan makna perjalanan dari sekadar berpindah tempat menjadi sekadar berpacu dengan detik.

Namun di Indonesia, kecepatan ini justru bisa menjadi penanda perubahan budaya kerja dan gaya hidup baru. Generasi muda profesional kini lebih memilih transportasi publik cepat dan digital. Mereka membeli tiket via aplikasi, menikmati konektivitas Wi-Fi di gerbong, dan berbagi pengalaman lewat media sosial. Mobilitas bukan lagi beban, tetapi bagian dari narasi identitas: cepat, efisien, dan terhubung.

Bagi masyarakat urban, kereta cepat mengubah cara kita memandang waktu dan ruang. Ia memaksa kita beradaptasi dengan ritme baru lebih cepat, lebih efisien, tapi juga menuntut kedisiplinan sosial yang lebih tinggi.  

Kritik dan Kontroversi

Tentunya, perjalanan Whoosh tidak sepenuhnya mulus. Proyek ini sempat menuai kritik keras, terutama soal pembengkakan biaya, pembebasan lahan, dan ketergantungan pada pinjaman luar negeri. Sebagian kalangan menilai bahwa proyek ini terlalu mahal untuk jarak yang relatif pendek, dan masih perlu pembuktian terkait manfaat jangka panjangnya terhadap ekonomi nasional. 

Ekonom Faisal Basri sempat menyebut bahwa kereta cepat bisa menjadi “proyek simbolik” yang berisiko jika tidak diimbangi dengan integrasi moda transportasi lain dan tata kelola keuangan yang transparan. Kritik ini bukan tanpa dasar. Sejak awal, proyek tersebut memang berhadapan dengan tantangan klasik: birokrasi, keterlambatan konstruksi, hingga perdebatan politik yang memperuncing narasi “siapa yang sebenarnya diuntungkan”. 

Namun, di sisi lain, keberanian memulai menjadi nilai tersendiri. Dalam banyak negara, infrastruktur besar hampir selalu lahir di tengah kontroversi. Jepang, ketika membangun Shinkansen pada 1960-an, juga menghadapi kritik serupa. Kini, Shinkansen menjadi simbol kemajuan negeri sakura. Hal yang sama juga terjadi di China, Spanyol, atau Prancis semuanya memulai dengan keraguan, lalu bertransformasi menjadi kebanggaan nasional.  

Membayangkan Masa Depan Transportasi Indonesia 

Dalam konteks yang lebih luas, kehadiran Whoosh bisa menjadi titik pijak untuk membayangkan masa depan transportasi Indonesia yang terintegrasi dan berkelanjutan. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membangun rel dan stasiun, tetapi memastikan seluruh ekosistemnya saling terhubung dari moda darat, laut, udara, hingga sistem logistik dan energi bersih. 

Integrasi dengan Light Rail Transit (LRT), Commuter Line, TransJakarta, dan Bus Rapid Transit (BRT) di berbagai kota menjadi langkah penting agar kereta cepat tidak berdiri sendiri. Tanpa konektivitas antarmoda, kecepatan justru akan kehilangan maknanya. Karena kecepatan sejati bukan hanya soal jarak yang dipangkas, tapi juga akses yang diperluas. 

Visi “Indonesia Emas 2045” menempatkan transportasi berkelanjutan sebagai salah satu pilar utama pembangunan. Di tengah krisis iklim global, kereta cepat yang menggunakan energi listrik jauh lebih ramah lingkungan dibanding moda berbasis bahan bakar fosil. Dalam jangka panjang, elektrifikasi transportasi massal seperti Whoosh akan menjadi kunci menuju net zero emission yang ditargetkan pemerintah pada 2060. 

Refleksi: Perjalanan Baru Sebuah Bangsa 

Kereta cepat Indonesia bukan sekadar proyek transportasi, tapi metafora tentang perubahan tentang bagaimana bangsa ini belajar bergerak lebih cepat tanpa kehilangan arah. Di atas rel baja itu, Indonesia sedang menguji kemampuan dirinya sendiri: apakah bisa melompat dari paradigma pembangunan konvensional menuju modernitas yang terintegrasi dan inklusif.

Mungkin, dalam beberapa dekade ke depan, kita akan mengenang Whoosh bukan hanya karena kecepatannya, tapi karena ia menandai momen ketika Indonesia berani mengubah kecepatan menjadi arah, dan kemajuan menjadi kenyataan. 

Di setiap hentakan roda besi dan deru mesin yang melaju di atas jembatan Cikarang, tersimpan pesan sederhana namun mendalam: bahwa masa depan tidak menunggu mereka yang berjalan lambat. Ia berpihak pada mereka yang berani mengambil langkah cepat dengan visi, strategi, dan kepercayaan pada kemampuannya sendiri. 

Dan mungkin, di sanalah arti sejati dari Whoosh bukan sekadar “kereta cepat pertama”, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju Indonesia yang lebih tangkas, lebih percaya diri, dan lebih siap menembus masa depan.

Informasi Seputar Tiongkok