
Bolong.id - China semakin menonjol sebagai salah satu penggerak utama kecerdasan buatan (AI) di luar dominasi tradisional Silicon Valley, dengan fokus pada akses teknologi yang lebih luas dan terjangkau, khususnya untuk negara-negara Global South. Pendekatan ini berbeda dari model kompetisi teknologi intensif modal di Barat dan bertujuan menjadikan AI alat praktis dan dapat dijangkau oleh banyak pihak.
Dikutip dari CGTN, Jumat (12/12/25), Media pemerintah China dan berbagai pemimpin industri teknologi menekankan bahwa strategi pengembangan AI di negara itu berorientasi pada aplikasi dunia nyata dan industrialisasi, bukan semata pada pengejaran kecerdasan buatan generik (artificial general intelligence). Filosofi ini tercermin dalam kerja perusahaan-perusahaan yang disebut sebagai “AI tigers”, termasuk unicorn teknologi seperti StepFun, Zhipu AI, Moonshot AI, MiniMax, 01.AI, dan Baichuan, yang aktif menghadirkan layanan AI berkualitas dengan biaya lebih rendah dibanding pesaing global.
Salah satu contohnya, MiniMax berfokus menyajikan layanan model bahasa besar (large language model) dengan harga terjangkau untuk pengembang dan usaha kecil menengah di seluruh dunia, yang dinilai dapat memperluas penggunaan AI di luar kelompok pengguna berkapasitas besar saja.
Selain itu, perusahaan teknologi asal China juga mengembangkan aplikasi AI di sektor nyata, seperti robot humanoid berbiaya kompetitif yang dapat mendukung pekerjaan struktural di masyarakat, serta pengembangan chips dan model AI domestik yang berperan penting dalam memitigasi dampak kontrol ekspor.
Pendekatan China ini dipandang sebagai usaha untuk mendemokratisasi teknologi AI, menjadikannya solusi yang lebih inklusif bagi negara-negara berkembang dan menempatkan AI sebagai alat produktivitas praktis, bukan sekadar simbol kekuatan teknologi tinggi.(*)
Informasi Seputar Tiongkok
Advertisement
