Lama Baca 4 Menit

Korban Tembak Polisi AS, Jacob Blake Lumpuh dari Pinggang ke Bawah

07 September 2020, 15:12 WIB

Korban Tembak Polisi AS, Jacob Blake Lumpuh dari Pinggang ke Bawah-Image-1

Korban Penembakan Polisi AS Angkat Bicara - gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami

Madison, Bolong.id - Jacob Blake, pria keturunan Afrika-Amerika yang ditembak di punggung oleh polisi di Wisconsin pada Agustus lalu, bicara untuk pertama kalinya dari ranjang rumah sakit saat demonstrasi atas keadilan rasial terus mengguncang beberapa kota di Amerika Serikat (AS).

Dalam sebuah video yang diunggah di Twitter, Blake yang mengenakan gaun rumah sakit bewarna hijau, mengatakan ia merasa kesakitan yang terus-menerus setelah penembakan yang membuatnya lumpuh dari pinggang ke bawah.

"Saya mendapat staples di punggung saya, staples di perut saya," katanya dalam video yang diunggah oleh pengacaranya, Ben Crump, pada Sabtu (5/9/2020) malam waktu setempat. “Bernapas sungguh menyakitkan, untuk tidur sakit, untuk berpindah dari satu sisi ke sisi lain sakit, untuk makan juga sakit,” dilansir dari Reuters, Senin (7/9/2020).

Korban Tembak Polisi AS, Jacob Blake Lumpuh dari Pinggang ke Bawah-Image-2

Korban Penembakan Polisi, Jacob Blake - gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami

Penembakan Blake yang berusia 29 tahun pada 23 Agustus 2020 lalu, menghidupkan kembali protes atas rasisme dan kebrutalan polisi yang melanda Amerika Serikat setelah pria Afrika-Amerika lainnya, George Floyd, meninggal pada Mei lalu ketika seorang petugas polisi Minneapolis menekan lehernya dengan lutut selama hampir sembilan menit.

Demonstrasi tersebut juga bertepatan dengan pergolakan yang meluas atas konsekuensi sosial dan ekonomi dari pandemi COVID-19 yang telah menewaskan hampir 190.000 orang di Amerika Serikat, jumlah kematian tertinggi di dunia.

Sementara itu, pada akhir pekan lalu mendekati Hari Buruh AS yang jatuh pada 7 September 2020, Polisi di Rochester, New York, menggunakan gas air mata untuk membubarkan sekitar 2.000 pengunjuk rasa pada malam keempat kerusuhan atas kematian Daniel Prude, seorang pria Afrika-Amerika yang meninggal setelah pertemuan dengan polisi di bulan Maret 2020. Sembilan orang ditangkap dan tiga petugas polisi dirawat di rumah sakit setempat karena luka-luka yang dideritanya selama bentrokan tersebut, menurut keterangan dari departemen kepolisian Rochester, Minggu (6/9/2020).

Walikota Lovely Warren mengumumkan bahwa Rochester memindahkan tim intervensi krisis keluarga beserta pendanaannya dari Departemen Kepolisian ke Departemen Layanan Pemuda dan Rekreasi sebagai tanggapan atas tuntutan perubahan.

“Saya berkomitmen untuk mengatasi tantangan ini untuk memastikan bahwa perubahan benar-benar datang,” kata Warren dalam konferensi pers. Dia berkata bahwa dia senang Jaksa Agung New York Letitia James telah pindah untuk membentuk dewan juri guna menyelidiki kematian Prude.

Bentrokan hebat juga mengguncang kota Portland, Oregon. Para pengunjuk rasa melemparkan batu dan bom api ke arah polisi yang menggunakan gas air mata, menyebabkan sedikitnya satu orang terluka dan menyebabkan lebih dari 50 penangkapan.