Lama Baca 4 Menit

Beijing Membalas, Wajibkan Media AS di China Laporkan Berbagai Hal

29 October 2020, 13:03 WIB

Beijing Membalas, Wajibkan Media AS di China Laporkan Berbagai Hal-Image-1

China Berlakukan Sanksi ke AS, Ini Kata Para Ahli - gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami

Beijing, Bolong.id - Pihak Tiongkok menuntut agar enam media Amerika Serikat (AS) berbasis di Tiongkok melaporkan secara tertulis informasi tentang staf, keuangan, operasi, dan real estate mereka di Tiongkok dalam waktu 7 hari terhitung sejak Senin (26/10/2020). 

Ini dianggap sebagai tindakan balasan terhadap keputusan AS untuk menunjuk enam media Tiongkok di AS sebagai "misi luar negeri" pada hari Kamis (22/10/2020) lalu.

Enam saluran media AS termasuk American Broadcasting Corporation, The Los Angeles Times, Minnesota Public Radio, Bureau of National Affairs, Newsweek dan Feature Story News, dilansir dari Global Times, Selasa (27/10/2020).

"Sehubungan dengan penunjukan enam outlet media Tiongkok lagi sebagai ‘misi asing’, saya sudah menyatakan posisi serius Tiongkok minggu lalu. Kami mendesak AS untuk mengubah arah, membatalkan kerusakan dan mencabut penunjukan enam outlet media Tiongkok. Namun demikian, pihak AS, secara total mengabaikan permintaan Tiongkok yang sah dan masuk akal serta peringatan serius, secara terus menerus meningkatkan represi politik dan stigmatisasi terhadap agen dan personel media Tiongkok," terang juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian pada konferensi pers rutin di Beijing.

Para pakar pun mengungkapkan pendapat mereka mengenai masalah ini. “Hanya 9 hari sebelum pemilihan (presiden) AS, Tiongkok mengumumkan dua tindakan balasan dalam satu hari yang menunjukkan bahwa siapa pun yang akan terpilih sebagai presiden, selama dia merusak kepentingan Tiongkok, Tiongkok akan mengambil tindakan balasan,” pungkas Lü Xiang, seorang peneliti studi AS di Akademi Ilmu Sosial Tiongkok di Beijing, Senin (26/10/2020).

"AS telah berperilaku tidak bersahabat dengan Tiongkok dan membuat aturan diskriminatif terhadap Tiongkok... Jadi wajar bagi Tiongkok untuk mengambil tindakan balasan," kata Lu. "Tetapi tindakan balasan terhadap enam media AS lainnya di Tiongkok adalah selingan singkat dalam ketegangan Tiongkok-AS, karena pemerintah AS telah berada dalam kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan banyak dari kebijakannya tidak masuk akal."

Ini adalah tindakan balasan kedua yang diumumkan Tiongkok pada hari Senin (26/10/2020) terhadap kebijakan AS seminggu menjelang pemilihan presiden. Tiongkok mengumumkan akan memberi sanksi kepada beberapa perusahaan termasuk Lockheed Martin, Boeing Defense, Raytheon serta individu dan entitas yang terlibat dalam penjualan senjata ke Pulau Taiwan. Analis percaya bahwa ini menunjukkan keputusan Tiongkok tidak akan diganggu oleh AS, dan tindakan apa pun yang merusak kepentingan Tiongkok pasti akan menghadapi konsekuensi serius.

"Perang media" yang diprakarsai oleh AS terus meningkat. AS berusaha menekan Tiongkok untuk membuat apa yang disebut "perubahan". Tetapi telah terbukti bahwa strategi itu tidak akan berhasil dan penindasan yang tidak masuk akal terhadap Tiongkok pasti akan menghadapi tindakan balasan yang tegas, terang Li Haidong, seorang profesor di Institut Hubungan Internasional Universitas Urusan Luar Negeri Tiongkok.

Li menekankan bahwa tindakan balasan Tiongkok baru-baru ini menyoroti perubahan besar dalam pendekatan diplomatik Tiongkok terhadap AS, yaitu tidak berkompromi dalam hal melindungi kepentingannya. Ia juga menyebutkan bahwa dalam tiga bulan ke depan, pemerintah AS mungkin akan mengambil tindakan lebih banyak untuk menahan Tiongkok. Selain itu, tidak akan ada kemajuan dan terobosan dalam bidang hubungan bilateral mana pun.

"Tiongkok akan membuat kebijakannya terhadap AS sesuai dengan kepentingan dan ritmenya sendiri, tidak akan terpengaruh oleh agenda domestik AS," tutup Li.