Lama Baca 5 Menit

WASPADA: Inilah 10 Daftar Modus Tipu Berkedok COVID-19

31 July 2020, 16:21 WIB

WASPADA: Inilah 10 Daftar Modus Tipu Berkedok COVID-19-Image-1

Ilustrasi Penipuan -  Gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami.

Inggris,  Bolong.id – Dilansir dari BBC News, metode penipuan finansial kerap bermunculan. Akhir-akhir ini, COVID-19 yang jadi modus penipuannya.

Asosiasi Lembaga Keuangan Inggris membuat daftar 10 penipuan terkait COVID-19 untuk mengingatkan masyarakat agar lebih waspada.

Lembaga ini mengatakan, selama COVID-19, penipu mencoba segala cara seperti berpura-pura menjadi lembaga kesehatan dan medis, atau agen pajak untuk menipu orang.

Ada juga penipu yang menyamar sebagai investor yang sukses dan memancing orang menggunakan tabungan mereka untuk berinvestasi.

Inilah 10 daftar penipuan terkait COVID-19 yang harus Anda waspadai!

1. E-mail palsu dari pemerintah. E-mail ini memberikan informasi departemen pemerintah menyediakan dana talangan. Padahal, e-mail tersebut berisi tautan web untuk mencuri informasi pribadi dan keuangan.

2. "Dana Bantuan Penyakit COVID-19”. E-mail penipuan yang ditujukan agar korban mengisi formulir aplikasi dan menyerahkan informasi pribadi.

3. E-mail pemerintah daerah palsu. E-mail ini memberikan "pengurangan dan pembebasan pajak pemerintah daerah", yang berisi tautan web ke situs web pemerintah palsu, yang mencuri informasi pribadi dan informasi keuangan.

4. Memberikan bantuan kepada penerima dan mengajukan permohonan kesejahteraan, tetapi penipu mengenakan biaya di muka sebagai "biaya layanan."

5. E-mail palsu yang mengklaim bahwa penerima telah melakukan kontak dengan orang yang didiagnosis positif COVID-19. E-mail tersebut berisi tautan web untuk mencuri informasi pribadi dan keuangan, atau mengunduh virus komputer.

6. E-mail iklan palsu yang mempromosikan penjualan produk baru yang berhubungan dengan COVID-19. Seperti pembersih tangan atau masker, namun setelah membayar, korban tidak menerima barangnya samas sekali, dan uang tidak dikembalikan.

7. E-mail atau pesan teks yang berisi biaya lisensi TV palsu. Dalam e-mail atau pesan teks ini, penipu memberi tahu para korban bahwa mereka memenuhi syarat untuk pembebasan biaya lisensi TV selama 6 bulan yang disediakan oleh pemerintah. Padahal, e-mail tersebut berisi tautan web untuk mencuri informasi pribadi atau keuangan.

8. E-mail layanan TV kabel palsu. Dalam e-mail ini, penipu meminta korban untuk memperbarui informasi pembayaran pemotongan otomatis. E-mail tersebut berisi tautan web untuk mencuri informasi pribadi atau kartu kredit dan informasi keuangan lainnya.

9. Menggunakan identitas palsu untuk mengunggah dan menyebarkan investasi yang sukses di media sosial, memanipulasi para korban untuk juga menginvestasikan uang, dan untuk mendapatkan kepercayaan dari para korban. Para penipu juga menggunakan identitas orang-orang sebenarnya untuk berbicara dengan para korban secara online.

10. Penipu mempromosikan peluang investasi palsu di media sosial dan mendorong korban untuk "memanfaatkan peluang jatuhnya pasar keuangan global untuk berinvestasi." Penipu juga menggunakan akun platform perdagangan Bitcoin dan media sosial untuk memikat korban, agar mereka tertarik berinvestasi.

Tak hanya 10 daftar di atas, masih ada beberapa modus penipuan lainnya terkait COVID-19!

1. Kelompok penipu mengklaim menjual kit skrining COVID-19 dan obat-obatan lain yang dibanggakan untuk mengobati atau mencegah COVID-19.

2. Tautan ke halaman web di mana para penipu mengaku dapat mengajukan permohonan subsidi makanan siswa dan dana bantuan pemerintah, dll. Kemudian penipun memanggil beberapa panti jompo palsu untuk berpura-pura menyediakan layanan pembelian makanan.

3. E-mail atau pesan teks yang menipu bahwa korban menerima denda karena keluar selama lockdown COVID-19. Padahal e-mail ini berisi tautan web untuk mencuri informasi pribadi atau keuangan, atau agar korban mengunduh virus komputer.

Sebuah organisasi amal Inggris mengatakan, masyarakat yang tidak memiliki dukungan dan bantuan yang memadai, serta masyarakat yang telah kehilangan pendapatan akibat COVID-19 lah yang menjadi sasaran empuk penipu. (*)