Baca dalam 3 menit

Batik Lasem : Akulturasi Budaya Tiongkok dan Jawa

Waktu Publish : 19 Feb 2021, 12:20 WIB
SHARE ARTIKEL


Batik Lasem - Gambar diambil dari berbagai sumber. Segala keluhan mengenai hak cipta dapat menghubungi kami.

Rembang, Bolong.id - Batik merupakan kain tradisional khas Indonesia yang memiliki beragam jenis dari berbagai penjuru daerah nusantara. Batik ini juga sudah diakui dunia lewat UNESCO sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non-benda.

Dikutip dari Good News From Indonesia.id., secara etimologi, kata batik berasal dari bahasa Jawa, ambhatik, yang terdiri dari kata amba yang berarti lebas, luas, kain, dan titik yang berarti titik atau matik. Dari padanan kata tersebut, kemudian berkembanglah kata batik yang kini dikenal luas oleh masyarakat.

Banyaknya jenis batik dari berbagai daerah di Indonesia membuat batik memiliki motif yang unik dan berbeda-beda tergantung asalnya. Bahkan, ada pula batik yang merupakan hasil perpaduan dua budaya, yakni Jawa dan Tionghoa.

Hasil perpaduan budaya Jawa-Tionghoa tersebut dapat dilihat salah satunya di Batik Lasem asal Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Meski motif yang tertuang di lembar kain menggambarkan corak akulturasi budaya Tionghoa-Jawa, tak begitu berbeda dengan batik lainnya, Batik Lasem pun dikerjakan dengan cara membatik tradisional.

Lahirnya Batik Lasem bermula dari pengusaha batik di Lasem yang merupakan keturunan Tionghoa. Ia membuat batik untuk permintaan komunitas Tionghoa sehingga mengembangkan corak batik yang memadukan budaya setempat, Jawa, dan latar belakang budaya Tionghoa. Batik ini pun kemudian terus berkembang dan berinovasi sampai sekarang. Akibatnya, muncul berbagai macam motif seperti Latohan, Sekar Jagad Tiga Negeri, dan Gunung Ringgit.

Batik Lasem sendiri memiliki gaya dan corak yang unik dan berbeda jauh baik dari motif dan warna batik khas Solo atau Yogyakarta. Dilansir dari inibaru.id, batik lasem memiliki empat jenis motif, yaitu motif burung hong, motif liong atau naga, motif gunung ringgit, dan motif kricak atau watu pecah. Adapun secara garis besar, motif burung hong, naga, ayam hutan, dan sebagainya adalah pengaruh budaya Tionghoa dan sekar jagad, kendoro kendiri, kricak, grinsing, dan lainnya berasal dari corak budaya non-Tionghoa. Adaptasi ini kemudian muncul dalam rupa kombinasi motif hewan seperti naga dan ikan bersama motif tumbuh-tumbuhan khas Jawa.

Nur Rohman, pemilik butik Najma yang menjual Batik Lasem menerangkan, harga batik tulis Lasem mulai dapat mulai dari 100 ribu rupiah hingga 25 juta rupiah. Ia menjelaskan, " [harga batik] itu tergantung motifnya, semakin sulit motifnya, maka pewarnaan yang digunakan semakin banyak. Otomatis biaya produksinya juga semakin besar". (*)

Esy Gracia/Penulis

BACA JUGA



Terkait

culture

Drama Akrobatik "War of Shanghai", Action di Beijing

  • Djono W. Oesman
  • 20 May 2021

news

Pilot Aerobatik China Sukses Lintasi Lubang Jembatan Taihu, ...

  • Maureen
  • 06 Oct 2020
Banner Kanan
Logo follow bolong