Lama Baca 4 Menit

Asik! Tarif Transfer Antar Bank Bakal Turun Jadi Rp 2.500!

19 November 2021, 09:55 WIB

Asik! Tarif Transfer Antar Bank Bakal Turun Jadi Rp 2.500!-Image-1

Ilustrasi transfer antar bank - Image from Dari berbagai sumber. Segala keluhan terkait hak cipta silahkan hubungi kami

Jakarta, Bolong.id - Tarif transfer nasabah antar bank akan turun dari Rp 6.500 menjadi Rp 2.500 per pekan kedua Desember 2021. Untuk tahap awalnya, 22 bank telah dipilih BI untuk terlibat karena dianggap siap untuk melaksanakan fasilitas BI-Fast yang menjadi sebab penurunan tarif tersebut.

Terkait dengan ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan akan terus mengawasi atau memantau kesiapan perbankan yang sudah ditetapkan menjadi peserta pada Desember 2021.

"Kami sangat erat dari hari ke hari dengan ke-22 peserta bank tersebut untuk memastikan siap secara teknologi [yang] dalam prosesnya disebut industrial test," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (18/11/2021).

BI pun telah melakukan penilaian dan telah menerbitkan peraturan penyelenggaraan BI-Fast yang dapat digunakan bagi para calon peserta sebagai pedoman. Peraturan tersebut tertuang di melalui PADG No.23/25/PADG/2021 tentang Penyelenggaraan Bank Indonesia-Fast Payment (BI-Fast) yang efektif berlaku sejak 12 November 2021.

Menurutnya, puluhan bank yang terlibat tersebut sudah memenuhi persyaratan BI baik dari sisi skala ukuran, volume transaksi pembayaran, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kebijakan sistem pembayaran BI.

Adapun BI-Fast sendiri merupakan sistem penyelesaian transaksi yang beroperasi secara real time. Dengan demikian, proses settlement transaksi bisa dilakukan selama 24 jam penuh.

Rencananya, tahap pertama BI Fast akan dilaksanakan pada pekan kedua Desember 2021 dan tahap kedua pada Januari 2022. Implementasi BI Fast ini pun disebut Perry akan dipantau minggu ke minggu.

Pada tahap pertama, ada 22 bank yang akan mempraktekkan BI Fast. Bank tersebut adalah Bank Tabungan Negara (BTN), Bank DBS Indonesia, Bank Permata, Bank Mandiri, Bank Danamon Indonesia, Bank CIMB Niaga, Bank Central Asia (BCA), Bank HSBC Indonesia, Bank UOB Indonesia, Bank Mega, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Syariah Indonesia (BSI), Bank OCBC NISP, UUS BTN, UUS Bank Permata, UUS Bank, UUS Bank Danamon Indonesia, Bank BCA Syariah, Bank Sinarmas, Bank Citibank NA dan Bank Woori Saudara Indonesia.

Untuk tahap kedua, 22 bank lain akan ikut terlibat. Di antaranya adalah Bank Sahabat Sampoerna, Bank KEB Hana Indonesia, Bank Harda International, Bank Maspion, Bank Rakyat Indonesia Agroniaga, Bank Ina Perdana, Bank Mandiri Taspen, Bank National Nobu, Bank Jatim UUS, Bank Mestika Dharma, Bank Jatim, Bank Digital BCA, UUS Bank Sinarmas, Bank Multiarta Sentosa, Bank Ganesha, UUS Bank OCBC NISP, UUS Bank Jateng, Standard, Chartered Bank, Bank Jateng, BPD Bali, Bank Papua, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).(*)


Informasi Seputar Tiongkok