Lama Baca 4 Menit

Legenda Asal-Usul Yin dan Yang

04 July 2021, 10:53 WIB

Legenda Asal-Usul Yin dan Yang-Image-1

Yin dan Yang - Image from kibrispdr.org

Bolong.id - Dalam budaya Tiongkok, Yin dan Yang merupakan dua prinsip yang berlawanan di alam semesta. Yin mencirikan sifat feminin atau negatif dari hal-hal dan berdiri sedangkan Yang untuk sisi maskulin atau positif. 

Dilansir dari 易鑫文化, Yin Yang merupakan salah satu simbol yang sudah ada sejak zaman Tiongkok kuno. Misteri yang ada dibalik simbol ini sudah banyak mengilhami peradaban manusia hingga sekarang. Secara sederhana, simbol ini mempunyai arti “bagaimana segala sesuatu bekerja”. 

Walaupun mempunyai arti yang terkesan sangat sederhana, namun jika digali lebih lanjut banyak pemahaman dibalik simbol ini. Yin dan Yang biasanya dipakai untuk mendeskripsikan sifat yang saling berhubungan, berlawanan dan saling mengisi satu sama lain. 

Yin lebih di deskripsikan kepada sisi hitam dan Yang adalah sisi putih, sebuah sisi warna yang berlawanan. Titik kecil hitam dan putih yang berada pada Yin dan Yang menggambarkan sisi yang saling mengisi satu dan lainnya 

Ini adalah sebuah kisah yang tidak diketahui kapan pertama kali muncul dalam peradaban manusia. Kisah tentang dua orang bersahabat yang bernama Yin dan Yang. Mereka berdua adalah orang yang saleh, berjiwa besar, dan penuh cinta kasih. 

Mungkin suatu kebetulan bahwa nama mereka mengingatkan kita pada konsep Yin-Yang yang berlawanan itu, namun memang demikianlah, mereka (Yin dan Yang) selalu berlawanan. 

Dikutip dari Kebajikan (De 德), Yin mempunyai keyakinan atau agama yang berbeda dengan Yang. Mereka secara teratur bertemu untuk mendiskusikan keyakinan mereka, dengan tujuan mencari sesuatu yang tak mereka ketahui namanya. 

Walaupun mereka saling menghormati dan mengajukan argumentasi dengan penuh adab, namun pada setiap akhir pertemuan, mereka tidak pernah merasa puas. Segala cara dan metode diskusi yang diketahui telah mereka tempuh tapi tetap tidak menghasilkan apa-apa. 

Ketika nyaris frustasi, mereka mulai kehilangan kendali diri, dalam hati masing-masing mulai muncul rasa "lebih benar". Akhirnya tercetus kata-kata mereka. 

Yin berkata "Ah, seandainya engkau adalah aku, tentu akan bisa memahami apa yang ingin kusampaikan, dan diskusi ini akan dapat membawa kita lebih mengerti 'sesuatu' itu." 

Yang berkata "Hei, aku juga berpikir begitu. Tapi bagaimana cara kita saling tukar diri kita?" 

Karena memang mereka tidak dapat saling tukar diri, maka tak lama kemudian mereka menemukan pemecahan yang disetujui paling tepat. Diputuskan, Yin akan mempelajari agama / keyakinan Yang dan Yang akan mempelajari agama / keyakinan Yin. 

Dan karena mereka memang menginginkan hasil terbaik dan terbenar, maka mereka berikrar akan mempelajari dengan sepenuh hati, berusaha memahami dengan hati terbuka, tidak malah mencari-cari titik kelemahan yang akan digunakan untuk menyerang lawannya. 

Sehingga akhrnya diiputuskan, setelah 40 tahun kemudian, mereka akan bertemu lagi untuk "duel sampai titik darah penghabisan". 

Setelah 40 tahun kemudian, Yin dan Yang yang telah semakin tua, bertemu pada senja hari di tempat terakhir mereka bertemu. Mereka saling berpandangan, tak sepatah kata pun yang terucapkan. 

Sinar mata mereka penuh kasih yang menghanyutkan sukma, senyum mereka begitu halus dan tulus. Mereka saling memeluk. Resonansi getaran jiwa mereka pada angin yang membelai, pada daun-daun yang berbisik, pada seluruh relung ruang di jagad raya ini, "Saudaraku, kau selalu dalam aku, dan aku dalam engkau." 

Sejak saat itu tak ada lagi diskusi, karena dalam pelukan itu mereka mengerti tanpa mengetahui dan mendapatkan tanpa mencari. (*)



Informasi Seputar Tiongkok