Lama Baca 5 Menit

Sejarah Kampung China di Manado Tahun 1607, Begini...

18 December 2021, 12:52 WIB

Sejarah Kampung China di Manado Tahun 1607, Begini...-Image-1

Pecinana di Manado - Gambar diambil dari Internet, jika ada keluhan hak cipta silakan hubungi kami.

Jakarta, Bolong.id – Pecinan adalah kawasan berpenghuni mayoritas Tionghoa. Pembantaian terhadap orang-orang Tionghoa oleh Belanda (Chinezenmoord) di Batavia tahun 1740, zaman Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier, merupakan awal terbentuknya Pecinan di Nusantara.

Dilansir dari Tionghoa.info, Kebijakan pemerintah Hindia Belanda pasca peristiwa tahun 1740, yang memberlakukan wijkenstelsel, membuat orang Tionghoa bermukim di tempat yang sudah ditentukan (Ghetto) agar mudah diawasi. 

Ghetto inilah yang kemudian berkembang menjadi kampung Pecinan, yang dipimpin seorang Wijkmeester (Loh tia)  atau hukum tua (istilah di Sulawesi Utara).

Adapun Pecinan merupakan sebutan khas di Pulau Jawa.

Imigran atau perantau Tionghoa asal Tiongkok disebut Huaqiao (Hoa Kiau). Namun, Wang Gungwu (1985) mengelompokkan perantau asal Tiongkok ini dalam 4 kelompok, yakni :

1. Huashang

Huashang atau pedagang Tionghoa yang merupakan kelompok penting dalam sejarah migrasi imigran Tiongkok, yang kebanyakan dari sub etnis Hokkian dan Hakka.

2. Huagong

Huagong atau para pekerja, buruh, petani tanpa tanah, pengangguran, serta pekerja miskin di perkotaan Tiongkok.

3. Huaqiao

Huaqiao atau kelompok imigran yang datang dengan kesadaran meninggalkan Tiongkok untuk mengubah nasib.

4. Huayi

Huayi atau keturunan Tionghoa yang sudah menetap lama dan melahirkan keturunan atau generasi kesekian di Nusantara.

Interaksi perantau Tionghoa di Manado dimulai saat bangsa Eropa datang ke tanah Minahasa dengan membawa pekerja orang Tionghoa. 

Bangsa Portugis yang dipimpin Simao d’abreu tiba di tanah Minahasa tahun 1523. 

Adapun bangsa Spanyol Tasikela (Kastela) menginjakkan kakinya di tanah Minahasa tahun 1530.

Dari catatan sejarah, pemukiman orang Tionghoa di Manado berawal pada tahun 1607, saat Gubernur Maluku Admiral Mattelief de Jong mengirim sebuah Jung China untuk membeli beras di tanah Minahasa.

Saat itu di Tiongkok, Dinasti Ming (1368-1643) sedang berkuasa. Tahun 1608, Kapal Belanda yang dipimpin Jan Lodewijkkz Rossinggeyn mendarat di tanah Minahasa, dan mendirikan Loji tempat mengumpulkan hasil bumi. Loji ini kemudian diberi nama Loji Manado, yang merupakan asal kota Manandou, tempat membuat garam bagi sub etnis Tombulu Minahasa.

Beberapa waktu kemudian, pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1655 membuat benteng kayu di Manado, dan diberi nama Nederlanche Vasticheijt. Tahun 1673, benteng dari kayu direnovasi, dan diganti dengan benteng yang terbuat dari beton, dan diberi nama Fort Amsterdam. Proses renovasi benteng ini selesai pada tahun 1703, yang dipimpin oleh Henry Duchiels.

Benteng Fort Amsterdam dilengkapi dengan pos penjagaan untuk mengawasi lintas perdagangan. Sekarang, lokasi benteng ini disebut Pasar 45. Interaksi perantau Tionghoa semakin intens, seiring waktu perantau Tionghoa terus berdatangan ke Manado.

Dibelakang benteng Fort Amsterdam ini, mulainya dibangun Ghetto (Loh Tia), yang merupakan sebuah kawasan pemukiman orang Tionghoa di Manado, yang kemudian disebut Kampung China. Bersebelahan dengan kampung China, terdapat kampung Arab.

Adapun tujuan pemukiman berdasarkan etnis ini menurut pemerintah kolonial, adalah lebih mempermudah pengawasan. Untuk menjaga ketertiban di Kampung China, maka diangkat seorang Wijkmeester. 

Adapun sebutan untuk pemimpin Tionghoa yang lebih tinggi dari seorang Wijkmeesrer adalah Luitenant dan Kapitein der Chinezeen.

Beberapa nama yang pernah menjabat Wijkmeester di Kampung China (Letter G) diataranya Pauw Djoe, Tjoa Tjaoe Hoei, dan Tjia Pak Liem.

Adapun yang menjabat pemimpin Tionghoa di Manado dengan sebutan Luitenant, diantaranya Que Ing Hin, Ong Bond Jie, dan Tan Bian Loe.

Sementara beberapa nama pemimpin Tionghoa dengan sebutan Kapiten China (Kapitein der Chinezeen) adalah The Tjien Tjo, Sie Sieuw, Ong Seng Hie, Lie Tjeng Lok, Tan Tjin Bie, Oei Pek Yong, Lie Goan Oan, dan Yjia Goan Tjong. (*)