
Bolong.id - Pemerintah China tengah menjalankan apa yang disebut sebagai “charm offensive” atau ofensif diplomasi terhadap negara-negara anggota Uni Eropa, dengan fokus pada hubungan bilateral secara langsung untuk meredakan tekanan kebijakan perdagangan yang dipimpin oleh Komisi Eropa.
Pendekatan ini dinilai sebagai upaya China untuk melemahkan konsensus di antara 27 negara anggota Uni Eropa sekaligus membentuk hubungan bilateral yang lebih menguntungkan dengan ibu kota masing-masing negara Eropa.
Diplomasi tersebut mencakup berbagai inisiatif konkret, antara lain pesanan pesawat dari Prancis, pembukaan kembali pasar ekspor daging sapi dan babi untuk Irlandia dan Spanyol, serta penawaran akses pasar dan fasilitas visa kepada pemerintah negara anggota tertentu.
Langkah-langkah ini dilakukan meskipun hubungan China dengan lembaga Uni Eropa di Brussels masih menunjukkan tanda-tanda ketegangan terkait kebijakan perdagangan dan geopolitik yang lebih keras.
Sumber diplomatik di Brussel mengatakan pejabat China menggunakan saluran bilateral ini untuk mengkritik kebijakan Uni Eropa yang dirancang di Brussels dan mencoba menggugah perbedaan pandangan di antara negara anggota.
Pendekatan tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi Beijing untuk mengurangi dampak dari kemungkinan tindakan perdagangan yang lebih konfrontatif dari Komisi Eropa terhadap China sepanjang tahun 2026.
Analis hubungan internasional mencatat bahwa taktik diplomasi bilateral ini mencerminkan perubahan pendekatan China dalam mengelola hubungan dengan Eropa menitikberatkan dialog langsung dengan pemerintahan nasional untuk mencapai hasil yang lebih pragmatis, dibandingkan bernegosiasi secara dua arah dengan Uni Eropa sebagai entitas tunggal.
Hal ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran Uni Eropa atas surplus perdagangan China serta isu-isu seperti praktik perdagangan yang dianggap tidak adil dan ketergantungan pada rantai pasok global. (*)
Informasi Seputar Tiongkok
Advertisement
