
Bolong.id - Di pesisir Sebong Pereh, Pulau Bintan, Kepulauan Riau, berdiri sebuah rumah ibadah yang tidak hanya menjadi ruang spiritual umat, tetapi juga magnet wisata budaya. Vihara Sangharama dikenal luas di kalangan wisatawan yang berkunjung ke Bintan. Lokasinya relatif mudah dijangkau sekitar 15 menit perjalanan dari Tanjung Uban menjadikannya salah satu destinasi religi yang aksesibel di kawasan utara pulau.
Kompleks vihara menghadirkan arsitektur bercorak Tiongkok yang kuat. Gapura besar dengan ukiran ornamental menyambut pengunjung di bagian depan, menghadirkan kesan sakral sekaligus monumental. Atmosfernya memadukan fungsi ibadah dengan daya tarik visual yang khas.

Ikon utama vihara ini adalah Patung Dewa Guan Sheng DiJun setinggi ±15 meter yang berdiri megah di bagian belakang kompleks. Patung ini tercatat sebagai salah satu dan dikenal luas sebagai patung Guan Sheng DiJun terbesar di Asia Tenggara.
Dalam historiografi Tiongkok, Guan Sheng DiJun merujuk pada figur legendaris Guan Yu, jenderal perang dari negara Shu pada era Sam Kok (Tiga Kerajaan). Sosok ini dihormati bukan semata karena kemampuan militernya, tetapi juga karena reputasi moralnya yaitu bijaksana, tegas, jujur, dan setia kepada penguasa.
Dalam tradisi Buddhisme Mahayana dan kepercayaan Tionghoa, ia kemudian dimuliakan dengan gelar Sangharama Bodhisattva, pelindung dharma dan vihara. Representasi visualnya konsisten berjenggot panjang, berwajah tegas, serta membawa senjata khas berupa guandao (tombak pedang).
Keberadaan patung raksasa ini menjadikan Sangharama bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga situs simbolik yang merepresentasikan nilai kesetiaan, keberanian, dan proteksi spiritual.

Selain figur dewa perang, keunikan lain justru hadir dari Patung Penyu Raksasa yang berdiri di tepi pantai, tepat di seberang vihara. Posisinya menghadap langsung ke arah matahari terbenam, menjadikannya titik favorit wisatawan untuk fotografi lanskap senja.
Patung ini berakar pada legenda lokal. Masyarakat setempat meyakini bahwa seekor penyu raksasa pernah menolong warga pada masa lampau. Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih, dibangunlah monumen penyu tersebut.
Simbolisme penyu dalam kosmologi Tiongkok juga identik dengan umur panjang, keteguhan, dan perlindungan selaras dengan fungsi vihara sebagai ruang spiritual sekaligus penjaga harmoni kawasan.
Vihara Sangharama di Bintan menghadirkan persilangan menarik antara sejarah, religiositas, dan folklor pesisir. Patung raksasa Guan Sheng DiJun merepresentasikan heroisme dan integritas, sementara penyu raksasa memelihara ingatan kolektif masyarakat atas pertolongan alam dan makhluknya.
Dalam satu lanskap, pengunjung tidak hanya menyaksikan arsitektur ibadah, tetapi juga narasi lintas peradaban dari epik Tiga Kerajaan hingga legenda lokal Kepulauan Riau yang hidup berdampingan di tepi laut Bintan. (*)
Informasi Seputar Tiongkok
Advertisement
