
Bolong.id - Di tengah semarak perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, satu hidangan tradisional selalu hadir di meja makan keluarga Tionghoa adalah ikan dingkis. Kuliner laut khas perairan Bintan ini bukan sekadar sajian, melainkan menyimpan makna simbolik yang diwariskan lintas generasi.
Ikan dingkis dikenal sebagai ikan laut berukuran sedang dengan daging lembut dan cita rasa gurih alami. Dalam tradisi kuliner lokal, ikan ini umumnya diolah menjadi kuah asam pedas, sup herbal, atau dikukus dengan bumbu sederhana agar rasa aslinya tetap dominan. Kesegaran bahan menjadi kunci, karena masyarakat percaya hidangan Imlek harus merepresentasikan kemurnian dan keberkahan.
Makna Simbolik Ikan dalam Tradisi Imlek
Dalam kosmologi budaya Tionghoa, ikan memiliki makna filosofis mendalam. Kata “ikan” dalam dialek Mandarin, yú, memiliki pelafalan serupa dengan kata “kelebihan” atau “kelimpahan”. Karena itu, menyajikan ikan saat Imlek dimaknai sebagai doa agar keluarga memperoleh rezeki berlimpah sepanjang tahun.
Di Tanjungpinang, pemilihan ikan dingkis memperkaya simbol tersebut dengan konteks lokal. Sebagai hasil laut utama masyarakat pesisir, ikan dingkis merepresentasikan:
- Kemakmuran dari laut – Sumber penghidupan masyarakat Kepulauan Riau.
- Keberlanjutan rezeki – Laut yang terus memberi, selaras dengan harapan tahun
- Keseimbangan hidup – Harmoni antara manusia, alam, dan tradisi.
Filosofi Penyajian
Cara penyajian ikan dingkis juga sarat makna. Dalam tradisi keluarga Tionghoa peranakan:
1. Disajikan utuh (kepala hingga ekor)
Melambangkan keberuntungan yang lengkap dari awal hingga akhir tahun.
2. Tidak langsung dihabiskan
Menyisakan sedikit ikan dipercaya sebagai simbol “kelebihan rezeki” yang tidak pernah putus.
3. Diletakkan di tengah meja
Menjadi pusat kebersamaan, menegaskan pentingnya persatuan keluarga.
Menurut salah satu Tokoh Tionghoa Kota Tanjung Pinang, Pak Alay, keunikan ikan dingkis di Tanjungpinang tidak lepas dari proses akulturasi Melayu-Tionghoa. Bumbu asam pedas, penggunaan cabai, serai, dan asam jawa menunjukkan pengaruh kuat dapur Melayu, sementara teknik kukus utuh dan sup herbal mencerminkan tradisi Tionghoa.

Perpaduan ini menjadikan ikan dingkis bukan hanya simbol etnis tertentu, tetapi identitas kuliner bersama masyarakat pesisir. Hidangan tersebut kerap hadir tidak hanya saat Imlek, tetapi juga pada acara keluarga, kenduri, hingga jamuan lintas budaya.
Bagi generasi tua Tionghoa Tanjungpinang, memasak ikan dingkis adalah ritual budaya. Resep diwariskan secara lisan, lengkap dengan petuah tentang kesabaran, ketelitian, dan rasa syukur. Proses memasak menjadi ruang transmisi nilai, bukan sekadar teknik kuliner
Ikan dingkis menempati posisi lebih dari sekadar lauk perayaan. Ia adalah simbol kelimpahan, harmoni, dan keberlanjutan hidup masyarakat pesisir Tanjungpinang. Melalui rasa gurihnya yang khas dan filosofi yang menyertainya, hidangan ini menegaskan bahwa kuliner dapat menjadi bahasa budaya mengikat identitas, memelihara tradisi, dan menyampaikan harapan akan tahun yang lebih baik.(*)
Informasi Seputar Tiongkok
Advertisement
