
Bolong.Id - Ekonomi Asia kini menghadapi risiko guncangan besar di pasar minyak akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang telah mendorong harga minyak naik tajam dan memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan energi melalui Alur Hormuz jalur laut penting bagi perdagangan minyak global.
Dilansir SCMP, Senin (02/03/26), Alur Hormuz merupakan salah satu jalur strategis terpenting dunia karena setiap hari sekitar 20 % volume minyak dan gas cair dunia melewati perairan ini dari Teluk Persia menuju pasar internasional, termasuk banyak negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Gangguan alur tersebut dapat berdampak langsung pada ketahanan energi negara importir besar di Asia.
Sejak konflik militer meningkat setelah serangan udara oleh AS dan Israel terhadap posisi Iran, lalu diikuti dengan penutupan sementara maupun peringatan bagi kapal yang melintas di Hormuz, harga minyak mentah dunia meroket. Brent naik hingga mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun. Hal ini disertai oleh reaksi pasar finansial Asia yang melemah dan lonjakan aset safe haven seperti emas.
Ketergantungan tinggi negara-negara Asia terhadap minyak dari Timur Tengah membuat ketidakpastian pasokan berpotensi mendorong inflasi energi, meningkatkan biaya produksi, dan menekan pertumbuhan ekonomi jika konflik berkepanjangan.
Para analis memperingatkan bahwa gangguan signifikan terhadap alur tersebut bisa mengakibatkan penyesuaian besar dalam permintaan pasokan alternatif, serta lonjakan harga yang lebih luas di pasar energi global.(*)
Informasi Seputar Tiongkok
Advertisement

