Lama Baca 4 Menit

Selamat Libur Panjang Idul Fitri, Selalu Ikuti Protokol

01 May 2022, 11:44 WIB

Selamat Libur Panjang Idul Fitri, Selalu Ikuti Protokol-Image-1

Hari Raya Idul Fitri - Image from iNews.id

Jakarta, Bolong.id - Presiden Indonesia, Joko Widodo menetapkan cuti bersama mulai Jumat, 29 April 2022 hingga 9 Mei, mengizinkan masyarakat mudik

Dilansir dari shangbaoindonesia.com, sejak dua tahun terakhir Idul Fitri di Indonesia diselimuti bayang-bayang wabah Covid-19. Tahun ini epidemi Covid-19 sudah reda.

Pihak Kementerian Agama melihat hilal pada Minggu,1 Mei 2022, untuk memastikan penentuan hari raya Idul Fitri. Tapi, hampir pasti Idul Fitri jatuh pada Senin, 2 Mei 2022.

Orang pasti punya banyak rencana untuk liburan panjang. Tradisi pulang kampung sudah mendarah daging di negeri ini. Setelah sebulan penuh berpuasa di bulan puasa Ramadhan, masyarakat siap berbagi kebahagiaan bersama keluarga di kampung di hari raya Idul Fitri. 

Jutaan orang bermigrasi dari satu daerah ke daerah lain untuk kembali ke rumah mengunjungi kerabat. Di negara kita, mudik saat ini bukan hanya kegiatan sosial dan keagamaan, tetapi juga merupakan faktor penting dalam mendorong kegiatan ekonomi.  

Catatan Pemerintah telah memberikan fasilitas khusus untuk penambahan gerbong kereta, pembangunan jalan tol, jembatan dan berbagai infrastruktur lainnya, serta penambahan penerbangan dan kapal penumpang. 

Demikian pula puluhan perusahaan swasta dan BUMN telah mengeluarkan dana yang sangat besar untuk menyediakan ratusan bus gratis dari hari keberangkatan hingga mereka kembali ke kota tempat mereka bekerja. 

Apakah ini sia-sia? Mungkin begitu dari satu sisi. Setiap orang yang kembali ke kampung halamannya menyumbangkan gaji, tabungan, dan tunjangan hari raya mereka untuk mendanai upacara tahunan mereka di desa dan untuk mengunjungi kerabat dan teman. 

Selain itu, migran yang kembali memiliki kecenderungan untuk sengaja memamerkan keberhasilannya kepada kerabat dan teman di desa, sehingga konsumsinya cenderung lebih boros dan tidak rewel.

Namun dalam hal lain, konsumsi di desa-desa yang kembali yang membawa cukup uang dari kota sebenarnya dapat memiliki efek ganda. Ini berarti bahwa sejumlah besar uang yang mengalir dari kota ke daerah pedesaan, melalui berbagai pengeluaran oleh migran yang kembali, dapat meningkatkan ekonomi lokal. 

Artinya terjadi pergeseran pola pengeluaran yang sebelumnya terkonsentrasi di perkotaan, kini bergeser ke daerah lain. Koki koki dan berbagai kebutuhan lainnya dapat menambah pasokan dan menikmati manfaat dari meningkatnya permintaan dari penduduk kota. Akibatnya, seiring dengan peningkatan pendapatan secara musiman, daya beli penduduk pedesaan juga meningkat.

Pemerintah memperkirakan peredaran uang pada masa libur Idul Fitri tahun ini bisa mencapai 250 triliun rupiah, yang memberikan banyak uang untuk mendorong perkembangan produsen, terutama usaha kecil dan menengah. 

Pariwisata juga terkena dampak positif. Saat ini hampir semua daerah sedang mengembangkan wisata lokal yang mengedepankan keindahan alam, antara lain pegunungan, air terjun, pantai, dan tempat ziarah.

Banyak tempat baru telah dibuka di hampir semua wilayah, menawarkan alam yang sejuk, tenang, indah dan menawan bagi penduduk kota yang bosan dengan kebisingan.

Sehingga tradisi berlibur bersama saat Idul Fitri, Tahun Baru Hijriah, jika dikelola dengan baik, akan berdampak positif bagi peningkatan perekonomian masyarakat. Sehingga pemerintah perlu berpikir lebih serius tentang bagaimana menggabungkan kekayaan, potensi dan kearifan lokal untuk mengembangkan atraksi baru yang menarik wisatawan.  

Anda dapat belajar dari pengalaman sukses Bali yang telah berkembang lebih dulu, untuk memahami bagaimana melibatkan penduduk lokal dalam pengembangan pariwisata dan memperoleh manfaat ekonomi. 

Satu hal yang perlu kita ingatkan adalah tetap harus berhati-hati di jalan dan mengikuti protokol kebersihan, mengingat pandemi covid-19 belum benar-benar berakhir. (*)