Lama Baca 3 Menit

Dibalik Rencana Trump Cabut Status Khusus Hong Kong, Bagaimana Nasib Ekonomi AS - Tiongkok?

01 June 2020, 10:23 WIB

Dibalik Rencana Trump Cabut Status Khusus Hong Kong, Bagaimana Nasib Ekonomi AS - Tiongkok?-Image-1

Trump Ancam Cabut Status Khusus Perdagangan Hong Kong - Image from gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami

Beijing, Bolong.id - Beberapa hari terakhir, dunia sedang diramaikan oleh isu UU Keamanan Nasional Hong Kong yang kontroversial, paska disahkannya  UU tersebut  melalui Kongres Rakyat Nasional Tiongkok (全国人民代表大会) yang digelar pada Kamis (28/5/2020) lalu.

Langkah ini bahkan sempat mendapat banyak protes dari masyarakat Hong Kong dan beberapa pihak dari dalam maupun luar negeri. Buntutnya, Amerika Serikat (AS) mengancam akan mencabut Status Khusus dalam bidang perdagangan antara Hong Kong dan AS yang telah termaktab dalam Perjanjian Akta Kebijakan AS-Hong Kong pada tahun 1992, dimana AS memberi perlakuan perdagangan khusus bagi wilayah ini.  

Dengan adanya perjanjian tersebut, kedua negara sepakat untuk dapat melakukan perdagangan dengan lebih luwes, ditandai dengan tarif dagang dari AS untuk Hong Kong yang rendah, visa bebas perjalanan yang berdampak pada bertambahnya minat perusahaan AS berbisnis di Hong Kong, tanpa perlu khawatir terkena tarif dagang sehingga dapat bebas keluar masuk Hong Kong untuk keperluan bisnis.  

Menurut data Kongres AS yang dikutip dari Bloomberg, terdapat 290 perusahaan AS yang memiliki kantor pusat di Hong Kong, dan terdapat 434 perusahaan AS yang memiliki kantor regional di kota tersebut. Surplus perdagangan AS terbesar pada tahun 2018 juga berasal dari Hong Kong, yakni sebesar US$ 31,3 miliar atau setara dengan Rp458 triliun. Sementara, sejak 2009-2018, surplus perdagangan AS dengan Hong Kong bernilai US$ 297 miliar atau setara dengan Rp4,348 triliun, terbesar di antara mitra dagang lainnya.

Karena itu, banyak yang meyakini, apabila Trump benar-benar mencabut status khusus AS-Hong Kong, maka akan memberikan dampak besar bagi kegiatan ekonomi Hong Kong dan AS, khususnya terkait keuntungan dan kemudahan AS yang dipastikan turut "menguap".

Tidak hanya AS, Tiongkok pun juga akan mengalami kerugian yang sama. Hal ini disebabkan karena kota Hong Kong telah menjadi pintu utama perdagangan Tiongkok ke seluruh dunia. Masih menurut  Bloomberg, pada tahun 2019, 12% ekspor Tiongkok yang pergi ke atau melewati Hong Kong menjadi angka penting bagi arus kas Tiongkok. Hong Kong juga menjadi basis penting bagi bank dan perusahaan perdagangan internasional, sehingga kota ini menjadi jalur uang yang mengalir deras bagi negara Tiongkok. *

Sumber: katadata.co.id