Lama Baca 4 Menit

Atasi Penyakit Kardiovaskular, Indonesia-Tiongkok Gelar Pelatihan Bersama

15 December 2025, 11:44 WIB

Seorang peserta pelatihan asal Indonesia berbincang dengan seorang dokter dari Rumah Sakit Pertama Universitas Lanzhou di Lanzhou, Provinsi Gansu, Tiongkok

Beijing, Bolong.id - Mengenakan jas putih dan masker wajah, peserta pelatihan asal Indonesia, Fadli Ilhami, mengikuti instruksi seorang dokter Tiongkok yang menunjukkan kepadanya cara melakukan angiografi koroner.

Dilansir dari 人民网, Fadli, 32 tahun, adalah salah satu dari sembilan dokter Indonesia yang pindah ke Lanzhou, ibu kota Provinsi Gansu di barat laut Tiongkok, untuk mengikuti program pelatihan spesialis medis dan beasiswa selama satu tahun yang ditawarkan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia dan Rumah Sakit Pertama Universitas Lanzhou.

Fadli mengatakan bahwa ia telah diberikan kesempatan berharga untuk studi lebih lanjut karena ia dapat menangani berbagai kasus berbeda di Lanzhou, membantunya memperoleh pengalaman dan kepercayaan diri di bidang intervensi koroner perkutan (PCI).

"Saya sangat termotivasi untuk menguasai PCI, dengan visi yang jelas untuk menjadi ahli berpengalaman di bidang ini," kata Fadli.

Pihak rumah sakit telah menyediakan mentor berpengalaman untuk bimbingan satu lawan satu, menggabungkan teori dan praktik untuk meningkatkan keterampilan spesialis para peserta pelatihan, kata Bai Ming, wakil presiden di rumah sakit tersebut dan juga seorang ahli terkemuka dalam pengobatan penyakit kardiovaskular.

Tim Bai telah secara konsisten melakukan penelitian mendalam dan praktik ekstensif di bidang kardiologi intervensi selama jangka waktu yang lama. Pusat jantung di rumah sakit ini dianggap sebagai pusat perawatan kardiovaskular terkemuka di barat laut Tiongkok.

"Tujuannya adalah untuk melatih mereka agar menguasai aspek diagnostik dan terapeutik dari prosedur intervensi kardiovaskular," kata Bai.

Menurut pemerintah Indonesia, penyakit kardiovaskular merenggut sekitar 500.000 jiwa setiap tahun di negara tersebut. Salah satu penyebab tingginya angka kematian di Indonesia adalah kekurangan spesialis jantung yang terlatih dalam kardiologi intervensi.

Santi Putri Ramdhani, 40 tahun, yang juga seorang peserta pelatihan asal Indonesia, yakin bahwa ia akan mampu melakukan operasi di negaranya begitu ia kembali ke Indonesia.

"Ada begitu banyak kasus yang telah saya tangani di rumah sakit ini. Semua mentor kami sangat mendukung dan mereka sangat murah hati dalam berbagi pengetahuan mereka, termasuk keterampilan teknis, penilaian klinis, dan pengambilan keputusan," kata Santi.

Xu Jizhe, seorang kepala dokter madya di rumah sakit dan mentor dalam program pelatihan, memberikan pengetahuan mengenai teori dasar dan teknologi inti PCI kepada para peserta pelatihan.

Menurut Xu, pelatihan ini mencakup prosedur mendasar seperti persiapan pra-operasi dan pembersihan serta disinfeksi permukaan pasien, serta intervensi teknologi canggih termasuk pemasangan stent, yang akan berlangsung hingga Maret mendatang.

Dia menambahkan bahwa, sesuai dengan persyaratan pelatihan, setiap peserta pelatihan perlu berpartisipasi dan mempelajari 300 kasus prosedur intervensi kardiovaskular, dan sejauh ini, mereka telah menyelesaikan lebih dari 200 kasus.

Hariman Kristian Sitanggang, peserta pelatihan lain dari Indonesia, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tim mentor dan menyuarakan harapan agar lebih banyak program klinik ditawarkan kepada dokter Indonesia di masa mendatang, karena program semacam ini merupakan langkah penting untuk mengurangi jumlah kematian akibat penyakit kardiovaskular.

"Para dokter Tiongkok sangat profesional dan sabar. Mereka tidak hanya mengajari kami pengetahuan medis yang sangat bermanfaat, tetapi juga memperlakukan kami seperti keluarga, yang sangat berarti bagi kami," katanya.

Para peserta pelatihan mengatakan kepada Xinhua bahwa mereka berharap dapat merawat pasien dengan penyakit kardiovaskular setelah kembali ke tanah air dengan bekal teknik medis yang mereka pelajari di Tiongkok, yang seharusnya memungkinkan mereka untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. (*)

Informasi Seputar Tiongkok