Lama Baca 3 Menit

Pertamina Alami Kerugian Hingga 11 Triliun, Kok Bisa? Tapi Jangan Takut, Karena...

26 August 2020, 13:07 WIB

Pertamina Alami Kerugian Hingga 11 Triliun, Kok Bisa? Tapi Jangan Takut, Karena...-Image-1

Pertamina Alami Kerugian Hingga 11 Triliun, Kok Bisa? - gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami

Jakarta, Bolong.id - PT Pertamina (Persero) terungkap mengalami kerugian sebesar USD767,92 juta atau sekitar Rp11,25 triliun selama semester I 2020. 

“Pertamina menghadapi triple shock,"  ungkap VP Komunikasi Pertamina Fajriyah Usman seperti dikutip dari siaran pers pada hari Senin (24/8/2020).  Fajriyah menjelaskan triple shock yang ia maksud adalah penurunan harga minyak mentah dunia, penurunan konsumsi BBM di dalam negeri, dan pergerakan nilai tukar dolar AS yang berdampak pada selisih kurs yang cukup signifikan. 

Dengan penurunan permintaan konsumen, depresiasi rupiah, dan juga harga minyak mentah yang berfluktuasi sangat tajam membuat kinerja keuangan Pertamina sangat terdampak. Konsumsi BBM nasional telah turun 13 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019, atau sekitar 117 ribu kilo liter per hari. Apalagi saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), permintaan akan bahan bakar di beberapa kota besar pun mengalami penurunan hingga 50-60 persen.

Selama rentang waktu pemerintahan Presiden Joko Widodo (2014-saat ini), Pertamina tercatat tidak pernah mengalami kerugian. Akibatnya, Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pun menjadi sorotan warganet. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini pun banyak dikaitkan dengan berita kerugian Pertamina tersebut.

Menanggapi hal ini, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengungkapkan jika kondisi ini merupakan dampak dari pandemi COVID-19 yang telah menekan seluruh sektor perekonomian di seluruh dunia. "Kalau ada yang mengaitkan dengan pak komut (Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama/Ahok) ya wajar, karena pak Komut juga suka overclaim. Tapi kondisi ini sebenarnya wajar, karena memang bisnis juga sedang turun," katanya pada hari Selasa (25/8/2020).

Komaidi juga menyebutkan bahwa kondisi mencekik seperti ini juga terjadi di perusahaan-perusahaan migas lain seperti Exxon, Total dan Shell yang bahkan mengalami penurunan dengan jumlah yang lebih besar daripada Pertamina.

Di sisi lain, Fajriyah juga telah memastikan seluruh proses bisnis Pertamina berjalan dengan normal. SPBU akan tetap beroperasi, pendistribusian BBM dan LPG juga dipastikan tetap terjaga baik. Ia menambahkan jika Pertamina tetap optimistis hingga akhir tahun 2020 pasti akan ada pergerakan yang positif. "Mengingat perlahan harga minyak dunia sudah mulai naik dan juga konsumsi BBM baik industri maupun ritel juga semakin meningkat," ungkapnya. (*)