Baca dalam 3 menit

AS Tunda Impor Kapas dan Tomat dari Xinjiang

Waktu Publish : 15 Sep 2020, 14:17 WIB
SHARE ARTIKEL

AS Tunda Larangan Impor Kapas dan Tomat dari Xinjiang - gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami

Washington, Bolong.id - Presiden Donald Trump pada hari Senin (14/9/2020) menyatakan, pemerintah AS menahan rencana impor untuk kapas dan produk tomat dari wilayah Xinjiang, Tiongkok.

Deputi Sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (AS), Kenneth Cuccinelli mengatakan "Perintah Penahanan Pelepasan (Withhold Release Orders; WRO)” baru pada kapas, tekstil, pakaian, produk rambut, dan komponen komputer ditujukan untuk memerangi dugaan kerja paksa di Tiongkok oleh Muslim Uighur yang ditahan di Xinjiang.

Dia mengatakan kepada wartawan melalui telepon konferensi bahwa pemerintah AS sedang melakukan analisis hukum lebih lanjut tentang larangan impor di seluruh wilayah AS, dilansir dari laman Reuters, Selasa (15/9/2020).

Pejabat Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (Customs and Border Protection; CBP) mengatakan pada pekan lalu bahwa mereka telah menyiapkan larangan luas pada kapas, tekstil kapas dan tomat, di antara ekspor komoditas terbesar Tiongkok. Penjabat Komisaris CBP Mark Morgan juga mengatakan pada hari Senin (14/9/2020) bahwa penyelidikan terhadap pesanan di seluruh wilayah terus berlanjut.

Tiongkok juga telah setuju untuk membeli kapas AS dalam jumlah yang lebih banyak berdasarkan kesepakatan perdagangan Fase 1 antar kedua negara yang dapat terancam oleh larangan AS atas impor dari wilayah penghasil kapas terbesar di Tiongkok.

Tetapi Cuccinelli mengatakan bahwa penundaan larangan impor ini terkait dengan masalah hukum, bukan perdagangan, yang mendorong perlunya studi lebih lanjut tentang larangan impor di seluruh wilayah. “Kami ingin memastikan bahwa ketika kami ditantang, dan kami berasumsi bahwa kami akan ditantang secara hukum, kami akan menang dan tidak ada barang yang pada akhirnya akan kami sita di bawah WRO akan beredar ke Amerika Serikat,” pungkas Cuccinelli.

WRO memungkinkan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS untuk menahan pengiriman barang berdasarkan kecurigaan keterlibatan kerja paksa di bawah undang-undang AS yang telah lama berlaku untuk memerangi perdagangan manusia, pekerja anak, dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya. Pengirim dapat mengirim produk ke negara lain atau berusaha membuktikan bahwa produk tersebut tidak diproduksi dengan kerja paksa.

Seorang pedagang kapas yang berbasis di Tiongkok yang tidak disebutkan namanya mengatakan pesanan-pesanan baru “sebagian besar akan didiskon” karena peraturan larangan hanya berdampak pada beberapa pemasok kecil. Namun, dia mengatakan perluasan larangan tersebut menjadi regional akan berdampak buruk bagi bisnis.

"Ini akan mengganggu rantai pasokan dan berkontribusi pada situasi yang memburuk antara AS dan Tiongkok serta berkurangnya kepercayaan," katanya.

Pemerintahan Presiden Donald Trump meningkatkan tekanan pada Tiongkok atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Uighur di Xinjiang. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Tiongkok sebelumnya menolak tuduhan kerja paksa di Xinjiang dan mengkritik Amerika Serikat karena ikut campur dalam urusan dalam negeri Tiongkok di wilayah tersebut.

Terkait

news

Ekspor Indonesia ke China Maret 2021 USD776 Juta

  • Lupita
  • 17 Apr 2021

news

Mendongkrak Naik Ekspor Dan Impor China Sejak Empat Tahun Te...

  • Visco Joostensz
  • 15 Apr 2021

news

Hong Kong Hentikan Impor Daging dan Produk Unggas dari Jerma...

  • Lupita
  • 13 Apr 2021

business

Bulan Ini Taiwan Impor 2 Ton Nanasnya ke Australia

  • Lupita
  • 30 Mar 2021

news

Pembeli di Singapura Temukan Isu Pada Nanas Taiwan

  • Esy Gracia
  • 27 Mar 2021

culture

Ini Dia Bir Tsingtao Asal Tiongkok yang Mendunia

  • Lupita
  • 16 Mar 2021
Banner Kanan
Logo follow bolong