Lama Baca 5 Menit

Berkat Trump, Ponsel Baru Huawei Mungkin Jadi Edisi Terbatas

23 October 2020, 10:37 WIB

Berkat Trump, Ponsel Baru Huawei Mungkin Jadi Edisi Terbatas-Image-1

Huawei Mate 40 - gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami

Washington, Bolong.id - Huawei, raksasa teknologi Tiongkok, memiliki beberapa smartphone baru yang keren dan canggih dengan prosesor super cepat dan kamera berkinerja tinggi. Namun, apa yang menjadi masalahnya? Persediaan smartphone-smartphone tersebut mungkin terbatas.

Dengan semua kemewahan dan kecanggihan yang disediakan, Huawei pada hari Kamis (22/10/2020) memperkenalkan seri Mate 40, smartphone top-of-the-line baru pertama perusahaan yang dirilis sejak pemerintahan Trump memberlakukan pembatasan pada kemampuan perusahaan untuk membeli chip komputer dari perusahaan mana saja yang menggunakan teknologi AS, dilansir dari nytimes.com, Jumat (23/10/2020).

Tetapi pihak Huawei tidak mengatakan apakah pembatasan itu akan menghentikan Huawei dalam membeli chip atau komponen lain yang cukup agar ponsel terbaru mereka tetap dirilis. Sebuah smartphone berisi banyak bagian dari pemasok yang berbeda. Tidak adanya stok dari salah satu bagian saja dapat memaksa Huawei untuk menghentikan pengiriman ponsel.

Richard Yu, kepala bisnis konsumen Huawei, hanya merujuk secara singkat kesusahan perusahaan pada hari Kamis (22/10/2020). “Kami berada dalam masa yang sangat sulit,” katanya.

Pemerintahan Trump teguh dalam kampanyenya untuk membuat Huawei pincang, yang peralatannya menggerakkan jaringan telekomunikasi di seluruh dunia. Para pejabat Amerika mengatakan Huawei tidak dapat dipercaya untuk memiliki peran sebesar itu dalam infrastruktur informasi dunia karena dicurigai informasi data dapat bocor ke pemerintahan Tiongkok. Sementara, perusahaan itu membantah keras tuduhan bahwa Huawei mengancam keamanan negara mana pun.

Karena Amerika Serikat telah memberlakukan pembatasan demi pembatasan pada bisnis Huawei, perusahaan tersebut mulai menggunakan banyak suku cadang yang dikembangkan sendiri untuk bertahan hidup. Divisi chip Huawei, HiSilicon, telah menjadi cukup mampu dalam merancang chip komputer tingkat lanjut. Tapi masih mengandalkan pabrikan luar untuk memproduksinya. Itulah mengapa Departemen Perdagangan tahun 2020 ini memberikan pukulan berat kepada Huawei ketika membatasi kemampuannya untuk bekerja dengan pembuat semikonduktor seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), pembuat chip terbesar di dunia yang disewa Huawei.

Perangkat lunak dan peralatan dari perusahaan Amerika sangat penting untuk pembuatan chip, itulah sebabnya pemerintah AS dapat memberikan pengaruh terhadap operasi pabrikan luar negeri seperti TSMC. Sebelum tahun ini, Huawei telah menjadi salah satu pelanggan terbesar raksasa Taiwan itu dengan kedua perusahaan bekerja sama untuk memproduksi chip smartphone Kirin milik Huawei.

Pengumuman Departemen Perdagangan tentang pembatasan terbaru, pada bulan Mei 2020, membuat Huawei menimbun chip dan komponen lainnya sebelum aturan berlaku pada bulan September. Pembelian itu membantu ekspor Taiwan mencapai rekor tertinggi pada bulan Agustus 2020. Kepala eksekutif TSMC, C.C. Wei, juga mengonfirmasi selama panggilan konferensi dengan analis minggu lalu bahwa pengiriman ke Huawei tidak lagi dilakukan.

Di sisi lain, Yu mengatakan chip utama pada Mate 40 memiliki teknologi "5-nanometer", mengacu pada proses manufaktur semikonduktor canggih yang hanya dapat digunakan oleh TSMC dan Samsung dalam skala komersial. Chip di iPhone terbaru Apple juga dibuat menggunakan proses 5 nanometer.

Pembatasan AS tahun 2019 lalu juga mencegah Huawei memuat ponselnya dilengkapi dengan Google Play Store dan aplikasi Google lainnya seperti Gmail dan Maps. Meski layanan tersebut sudah diblokir di Tiongkok, tetapi ketidakhadiran mereka adalah masalah besar di pasar negara lain.

Ben Stanton, seorang analis di perusahaan riset Canalys, mengatakan bahwa pengecer dan operator seluler di luar Tiongkok telah berusaha untuk tidak menyimpan terlalu banyak perangkat Huawei selama setahun terakhir. "Mereka sangat gugup tentang apakah Huawei akan berada di game smartphone dua atau tiga tahun dari sekarang," pungkasnya.

“Huawei harus memproyeksikan citra ini sebagai perusahaan yang kuat dan stabil terlepas dari apa yang terjadi di balik layar,” tambah Stanton.

Orang-orang di Tiongkok masih mendukung perusahaan teknologi tersebut, banyak di antaranya karena kebanggaan patriotik. Penjualan cepat di Tiongkok membantu Huawei menjatuhkan Samsung sebagai penjual smartphone terbesar di dunia pada kuartal kedua, menurut Canalys. 

Sementara itu, ponsel bukan satu-satunya area bisnis Huawei yang menghadapi tekanan. Swedia minggu ini melarang operator seluler menggunakan peralatan dari Huawei dan pemasok Tiongkok lainnya, ZTE, dalam pembangunan jaringan 5G mereka yang akan datang. Inggris juga melakukan hal yang sama pada bulan Juli 2020. (*)