Baca dalam 3 menit

Problem Populasi China, Dulu 1 Anak, Lalu 2, Kini Menyusut

Waktu Publish : 20 Feb 2021, 13:21 WIB
Sumber : China Daily
SHARE ARTIKEL


Program Keluarga Berencana di China - Image from China Daily

Beijing, Bolong.id - Pemerintah Tiongkok sudah lama tidak membatasi jumlah ana dalam keluargak, seperti zaman dulu. Di Tiongkok timur laut, kini angka kelahiran rendah, populasi menyusut. Maka, Departemen Kesehatan setempat mendorong, agar keluarga punya lebih dari dua anak.

Dorongan pemerintah itu, hasil penelitian para ahli, bahwa keluarga punya banyak anak itu bagus. Sebab, kini Tiongkok sudah jadi negara kaya. Bahkan, perdagangan Tiongkok menguasai dunia. Demikian dilansir dari China Daily, Jumat (19/02/21).

Sekitar 30 tahun silam, Tiongkok menerapkan kebijakan: Hanya satu anak. Kemudian, pada 2016 meningkat jadi dua anak. Namun, sejak itu jumlah kelahiran tidak sebanyak yang diharapkan, Ini menimbulkan kekhawatiran pada angkatan kerja yang menua. Sementara jumlah generasi muda bakal lebih sedikit.

Paling menonjol di tiga provinsi timur laut, dengan tingkat kesuburan tahunan terendah. Mengakibatkan penurunan populasi di wilayah tersebut.

Komisi tersebut mengatakan penurunan populasi wilayah tersebut disebabkan oleh serangkaian faktor yang terkait dengan model ekonomi regional, struktur industri dan kebijakan sosial.

"Misalnya, karena sumber daya lokal telah mengering dan Tiongkok sedang meningkatkan pembangunan industrinya, sejumlah besar penduduk muda di sana tidak dapat memperoleh pekerjaan lokal yang memuaskan, dan telah bermigrasi ke daerah di mana pertumbuhan ekonomi lebih baik dan gaji lebih tinggi," katanya. 

Meskipun banyak penduduk perbatasan di wilayah tersebut dapat memiliki hingga tiga anak per keluarga, sejauh ini kebijakan relaksasi tersebut gagal meningkatkan keinginan keluarga setempat untuk memiliki lebih banyak anak.

Akibatnya, komisi tersebut mengatakan bahwa perubahan kebijakan keluarga berencana diharapkan berdampak terbatas pada keputusan kesuburan.

"Beban ekonomi, kurangnya perawatan pembibitan dan pengembangan karier perempuan telah menjadi faktor signifikan dalam mempengaruhi angka kelahiran di wilayah tersebut," tambahnya.

"Untuk meningkatkan tingkat kesuburan, sangat penting untuk fokus pada tuntutan publik, mengatasi kelemahan dalam layanan publik dasar dan menangani masalah praktis dalam melahirkan dan membesarkan anak," tambahnya.(*)

Alifa Asnia/Penerjemah

Terkait

news

Luhut : Indonesia akan Dibantu oleh Tiongkok Menangani Virus...

  • Bryant
  • 18 Mar 2020

health

Tiongkok Beri Bantuan Medis, Miris, Saat Warga Jakarta Remeh...

  • Isfatu Fadhilatul
  • 19 Mar 2020

health

Penderita Ringan COVID 19 Tidak Akan Kenapa-napa

  • Edwin Adriaansz
  • 21 Mar 2020

news

80% Pasien COVID-19 Belum Didiagnosis Sebelum Wuhan Lockdown...

  • Edwin Adriaansz
  • 21 Mar 2020

news

Tidak Ada Pasien Baru COVID-19 di Guangxi, Namun Ada 34 Kasu...

  • Edwin Adriaansz
  • 21 Mar 2020

news

Beberapa Tipe Orang Yang Harus Dikarantina

  • Edwin Adriaansz
  • 22 Mar 2020
Banner Kanan
Logo follow bolong