Baca dalam 2 menit

Kurangi Konsumsi Batu Bara, RI Berpotensi Gunakan 9 Juta Ton Sampah Untuk PLTU

Waktu Publish : 19 Nov 2021, 07:22 WIB
SHARE ARTIKEL

Salah satu PLTU di Indonesia - Image from Dari berbagai sumber. Segala keluhan terkait hak cipta silahkan hubungi kami

Jakarta, Indonesia - Gencarnya transisi energi dari berbahan dasar fosil ke Energi Baru Terbarukan (EBT) membuat batu bara menjadi sumber energi yang dimusuhi. Tak heran, konsumsi batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) pun terus ditekan pemerintah Indonesia.

Salah satu upaya penekanan penggunaan batu bara ini pemerintah lakukan melalui program co-firing biomassa pada PLTU. Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Tata Kelola Mineral dan Batu Bara (Minerba) Irwandy Arif menjelaskan, program co-firing adalah pencampuran batu bara dan biomassa di PLTU.

"Pencampuran biomassa dan batu bara di PLTU bisa kurangi CO2 yang dihasilkan di udara," ungkapnya dalam acara 'Indonesia Energy and Coal Business Summit', Kamis (18/11/2021).

Dia mengatakan, PT PLN (Persero) sudah melakukan uji coba co-firing dengan berbagai sumber biomassa, seperti serbuk gergaji, serpihan kayu, cangkang inti sawit, dan sampah. Adapun tingkat pencampuran biomassa di PLTU ini sebesar 5-15%.

"Co-firing biomassa akan dilakukan di 52 lokasi PLTU milik PLN dengan kapasitas 18 Giga Watt (GW)," lanjutnya.

Ia menambahkan, hingga Juli 2021, pengujian sudah dilakukan di 42 lokasi dan implementasi komersial di 17 lokasi.

Berdasarkan data yang Irwandy paparkan, kebutuhan biomassa pada 2020-2024 mencapai 5,06 juta ton. Lalu 2025-2035 dibutuhkan biomassa sebesar 9,02 juta ton per tahun. Dengan penerapan program co-firing ini, potensi penurunan emisi pada 2020-2024 dapat mencapai 3,37 juta ton CO2e dan tahun 2025-2035 sebesar 5,94 juta ton CO2e per tahunnya.

"Penerapan co-firing biomass di PLTU kurangi emisi lingkungan," tegasnya.


Load more
Banner Kanan
Logo follow bolong