Kuliner Khas Tembok Besar: Kue Daun Ek Cita Rasa Sejarah dan Keberuntungan

logo clock 4 Menit logo clock 07-10-2020, 10:24

Ilustrasi Kue Daun Ek - Image from whjxqc168.com

Shijiazhuang, Bolong.id - Zhao Cuiyun 赵翠云 mengolesi daun seukuran telapak tangan dengan pasta jagung. Kemudian mengisinya dengan daging tumbuk dan melipatnya menjadi bentuk pangsit. setelah dikukus sekitar 20 menit, Kue Daun Ek(桲椤叶饼)siap dikemas dan dijual. Itulah kue daun ek, khas Tiongkok.

Zhao berasal dari daerah pedesaan Qinhuangdao di Provinsi Hebei, bagian utara Tiongkok yang dikenal akan Shanhai Pass, pangkalan timur Tembok Besar. Ia bekerja di sebuah produksi Kue Daun Ek. Kue Daun Ek adalah makanan khas yang telah menunjukkan budaya Tembok Besar dan menjadi sumber pemasukan bagi penduduk setempat. Demikian dilansir dari Xinhuanet, Selasa (6/10/2020). 

“Dengan tempat produksi di depan pintu rumah saya, setiap bulannya saya bisa membawa pulang 2.000 yuan (sekitar Rp4,3 juta), sambil mengurus keluarga saya dan lahan pertanian di saat yang sama,” Kata Zhao. 

Untuk memenuhi permintaan pasar yang meledak-ledak selama Golden Week yang dimulai pada 1 Oktober, produsen Kue Daun Ek di Distrik Haigang Qinhuangdao telah menggandakan produksi hariannya menjadi 3 ton sejak pertengahan September, kata Yang Guiyun, pemimpin produksi kue daun ek, Mulan Food. 

Menurut penduduk setempat, membuat kue Daun Ek adalah tradisi yang diwariskan nenek moyang mereka dari Yiwu, Provinsi Zhejiang, bagian Timur Tiongkok. 

Pada Dinasti Ming (1368-1644), tentara yang direkrut di Yiwu dan dipimpin oleh Qi Jiguang, seorang jenderal militer terkenal, ditempatkan di sepanjang Tembok Besar untuk melawan musuh dari utara. 

Ji Yang, seorang profesor di Universitas Northeastern di Qinhuangdao, mengatakan kue daun ek yang dibuat oleh tentara Yiwu sebenarnya adalah versi gabungan dari pangsit (jiaozi) dan bakcang (zongzi), bola nasi isi yang dibungkus dengan daun pohon ek yang populer di selatan, mewakili pencampuran budaya dari utara dan selatan Tiongkok. 

“Para tentara merindukan makanan rumah berupa bakcang, dan tanpa alang-alang  atau beras yang tumbuh di sekitarnya, mereka menciptakan kue menggunakan daun pohon ek setempat, membentuk fenomena unik saat bertahan sepanjang Tembok Besar,” kata Ji. 

Menurut pemerintah setempat, keturunan Yiwu sekarang dapat ditemukan di hampir 160 desa di dekat bagian Tembok Besar sepanjang 23 km di Qinhuangdao yang dibangun pada Dinasti Ming, termasuk desa yang ditinggali Yang. 

Kue Daun Ek menjadi pilihan yang harus dicoba oleh wisatawan yang makan di restoran lokal bergaya pedesaan. 

Kue Daun Ek ini telah membawa keberuntungan bagi Zhao dan Yang, yaitu membawa pemasukan besar bagi keluarga. Di samping itu produksi Kue Daun Ek telah membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk sekitar dan menambah rata-rata pendapatan tahunan mereka. 

Yang Guiyun juga berencana untuk memperluas media penjualan kue dengan memanfaatkan media

online

. Ia juga berharap kuenya bisa dijual ke Yiwu dan menjadi ikatan baru antara generasi muda dan orang-orang di Yiwu. 


Penulis : Maureen
Editor : Djono W. Oesman

Terkait

Yuk, Simak 30 Fakta tentang China Ini!

 

logo clock 20-10-2020, 14:57
logo clock Baca ini dalam 5 Menit
logo share

Tren Restoran Bertema Hewan Peliharaan, Apakah Aman Bagi Pelanggan?

 

logo clock 20-10-2020, 14:23
logo clock Baca ini dalam 4 Menit
logo share

Ayo Cek 8 Fakta tentang Bahasa Mandarin yang Perlu Kalian Tahu!

 

logo clock 20-10-2020, 13:16
logo clock Baca ini dalam 7 Menit
logo share

Siter China Sambut Musim Semi di Selandia Baru dengan Ansambel Bunga Melati

 

logo clock 20-10-2020, 10:35
logo clock Baca ini dalam 3 Menit
logo share

Kartunis Dunia Bersatu di Pusat Kebudayaan China di Kairo

 

logo clock 20-10-2020, 10:31
logo clock Baca ini dalam 3 Menit
logo share

Viral