Lama Baca 4 Menit

Patung Buddha Tidur Vihara Dharma Shanti Ikon Wisata Religi Kepulauan Riau

18 February 2026, 09:36 WIB

Patung Buddha Tidur Vihara Dharma Shanti Ikon Wisata Religi Kepulauan Riau-Image-1
Patung Buddha Tidur (Reclining Buddha) di Vihara Dharma Shanti Tanjung Uban, Kepulauan Riau (18/2). 

Bolong.id - Di kawasan Tanjung Uban, Kabupaten Bintan, berdiri sebuah mahakarya religi yang kini menjadi magnet wisata spiritual di Kepulauan Riau. Patung Buddha Tidur (Reclining Buddha) di Vihara Dharma Shanti tampil megah dengan panjang 16,8 meter dan tinggi 4 meter menjadikannya salah satu ikon wisata religi paling menonjol di wilayah pesisir utara Pulau Bintan.  

Patung ini diresmikan pada 19 Oktober 2019 dan sejak itu menjadi pusat perhatian umat Buddha maupun wisatawan lintas agama. Keberadaannya tidak hanya memperkaya lanskap religi di Bintan, tetapi juga memperkuat posisi daerah ini sebagai destinasi wisata spiritual yang inklusif. 

Patung Buddha Tidur Vihara Dharma Shanti Ikon Wisata Religi Kepulauan Riau-Image-2
Tampak sejumlah wisatawan domestik maupun asing berkunjung ke patung ini (18/2) 

Replika Ikonik Wap Pho Bangkok  

Secara artistik dan konseptual, patung ini merupakan replika dari Reclining Buddha di Wat Pho, Bangkok, Thailand, salah satu representasi Buddha tidur paling terkenal di dunia. Replika tersebut dihadirkan bukan sekadar tiruan visual, melainkan adaptasi simbolik yang disesuaikan dengan konteks lokal Indonesia, khususnya Kepulauan Riau yang multikultural. 

Dimensi patung yang mencapai hampir 17 meter memberikan kesan monumental ketika pengunjung memasuki ruang vihara. Posisi tubuh Buddha yang berbaring dengan ekspresi wajah tenang menghadirkan atmosfer hening, kontemplatif, sekaligus sakral. 

Makna Parinibbana: Kebijaksanaan dan Kedamaian  

Dalam ajaran Buddhisme, Buddha tidur merepresentasikan Parinibbana, momen ketika Siddhartha Gautama mencapai pembebasan sempurna dari siklus kelahiran kembali. Simbol ini sering disalahpahami sebagai gambaran kematian. 

Padahal, Parinibbana adalah puncak kesadaran pelepasan total dari penderitaan, nafsu, dan keterikatan duniawi. Ekspresi wajah patung di Vihara Dharma Shanti menjadi pusat kontemplasi. Mata terpejam lembut, bibir tersenyum tipis, seolah menegaskan bahwa kedamaian sejati lahir dari kebijaksanaan batin. 

Bagi peziarah, duduk beberapa menit di hadapannya menghadirkan pengalaman reflektif tentang hidup, kefanaan, dan makna melepaskan.

Karya Seniman Dedi Purnomo 

Di balik kemegahan patung ini, berdiri tangan kreatif seniman Dedi Purnomo. Ia merancang struktur patung dengan memadukan referensi klasik Buddhis dan pendekatan teknik modern. 

Proses pembuatannya tidak sederhana. Dimulai dari sketsa proporsi, pembuatan maket, penyusunan rangka struktural, hingga pemahatan detail wajah dan jari yang presisi. Finishing warna emas memperkuat kesan agung sekaligus sakral. 

Karya ini menunjukkan bahwa seni religi monumental tidak harus lahir di luar negeri Indonesia pun memiliki kapasitas artistik untuk menghadirkan simbol spiritual berkelas internasional. 

Simbol Harmoni di Tanah Melayu 

Lebih dari sekadar objek wisata, Buddha tidur di Vihara Dharma Shanti memantulkan wajah pluralitas Kepulauan Riau. 

Di wilayah yang didominasi budaya Melayu, keberadaan vihara besar dengan patung monumental justru diterima sebagai bagian dari mozaik sosial. Perayaan Waisak, Imlek, hingga kegiatan sosial keagamaan sering dihadiri masyarakat lintas iman. 

Di sinilah religi bertemu toleransi dalam ruang yang sunyi namun menyatukan. 

Menyusuri Kedamaian 

Patung Buddha Tidur sepanjang 16,8 meter di Vihara Dharma Shanti bukan sekadar destinasi fotografi atau landmark religi. Ia adalah narasi tentang pencerahan, karya seni, dan harmoni sosial yang hidup di pesisir Bintan. 

Di ruang itu, Parinibbana tidak terasa sebagai akhir, melainkan undangan untuk memahami kedamaian, dalam skala yang sangat manusiawi.(*) 

Informasi Seputar Tiongkok