Baca dalam 3 menit

Ancam Tiongkok dengan SWIFT, Bumerang Bagi Amerika?

Waktu Publish : 01 Jul 2020, 14:52 WIB
SHARE ARTIKEL

Ilustrasi Perang Dagang Tiongkok-AS - Image from Gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami.

Washington, Bolong.id – Ketegangan bilateral antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok semakin panas, AS telah mengambil langkah untuk mengendalikan Tiongkok. Baru-baru ini, media Rusia melaporkan bahwa AS menggelar blokade keuangan yang ekstrem, untuk melumpuhkan Tiongkok dan Rusia. Artinya, AS mengasingkan dua negara itu dalam jaringan pembayaran internasional berdenominasi dolar AS, atau yang sering disebut dengan SWIFT. Langkah ekstrem AS ini dapat membawa kerusakan besar pada sistem keuangan internasional.

Melansir Global Times, hingga saat ini, AS memperketat pembatasan ekonomi dan perdagangan Tiongkok, seperti membatasi ekspor produk teknologi AS, menaikkan tarif produk impor Tiongkok, memaksa perusahaan AS untuk meninggalkan pasar Tiongkok, hingga menindak Huawei (华为). Selain itu, ada kemungkinan bahwa AS dapat menggunakan senjata terakhir yang tersisa, yaitu memblokir Tiongkok dari SWIFT.

Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) adalah sistem pembayaran global, di mana dolar AS diperdagangkan, ditransfer, dan disimpan di seluruh dunia. Mata uang yang digunakan adalah dolar AS, sistem ini dikendalikan oleh pemerintah AS. SWIFT menjadi senjata AS, yang membuat negara ini bisa memaksa negara lain untuk keluar dari pasar keuangan global, dengan membatasi atau memblokir mereka. Iran, Venezuela, dan Zimbabwe adalah negara yang terkena dampaknya. Dengan dolar sebagai mata uang cadangan global utama, pengawas keuangan AS dapat memantau sirkulasi non-tunai. Tiongkok juga tidak mau kalah, di tahun 2015, negeri tirai bambu ini meluncurkan Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), atau Sistem Pembayaran Antar Bank Lintas-Batas. Sistem independen ini menggunakan yuan sebagai mata uang patokannya.

Dengan diblokirnya Tiongkok dari SWIFT, tentu menyebabkan masalah. Namun, itu bisa jadi bumerang bagi AS. Meskipun risiko yang akan didapatkan negara ini tidak signifikan, namun dolar AS akan runtuh, karena Tiongkok adalah kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia, dengan cadangan dan obligasi dolarnya yang sangat besar. Di tambah lagi, di tengah COVID-19 saat ini, Tiongkok terus menunjukkan pertumbuhan yang stabil, guna mempromosikan pengembangan yuan, seperti promosi yuan digital, transaksi dalam mata uang yuan, dan memperluas penggunaan yuan dalam perdagangan dan investasi. (*)


Terkait

news

Bagaimana Sih Hubungan Tiongkok-AS Saat Ini?

  • Della Shafira Putri
  • 02 Jul 2020
Load more
Banner Kanan
Logo follow bolong