Baca dalam 3 menit

Wong Kar Wai, Penulis Skenario Terkenal Asal Hong Kong

Waktu Publish : 18 Jul 2021, 09:15 WIB
SHARE ARTIKEL

Wong Karwai - Image from Internet. Segala keluhan mengenai hak cipta dapat menghubungi kami

Bolong.id - Film-film garapan Wong Kar Wai adalah semacam peta Hong Kong. Wong telah memfilmkan kota dari begitu banyak sudut, dengan presisi spasial sedemikian rupa, sehingga jika Hong Kong runtuh, dapat direkonstruksi dengan sempurna, dari film Wong saja.

Dilansir dari spectator.co.uk pada Sabtu (17/7/2021), Wong Kar Wai adalah pembuat film yang paling retrospektif, selalu melihat ke belakang, karakternya selalu mencari waktu yang hilang. Days of Being Wild (1990), Ashes of Time (1994), In the Mood for Love (2000), adalah beberapa mahakarya nostalgianya.

Cuplikan In The Mood for Love - Image from Internet. Segala keluhan mengenai hak cipta dapat menghubungi kami

Wong, pembuat film terbesar dari industri film besar Hong Kong, sebenarnya lahir di Shanghai pada 17 Juli 1958, dan datang ke Hong Kong itu pada usia lima tahun.

Karena ayah Wong bekerja sebagai pelaut, dia dibesarkan oleh wanita yang suka bergosip, melahirkan selera melodrama yang menghiasi semua film garapannya. Film-filmnya selalu dihiasi dengan cerita tentang migrasi; karakter selalu melompat kapal ke Singapura, Makau atau Filipina, untuk melepaskan diri dari beban masa lalu.

Ayahnya kemudian membuka bisnis klub malam, yang kemudian mendorong Wong untuk memvisualisasikan kehidupan malam penjudi, gangster, penipu dan pembunuh bayaran dalam film-filmnya.

Wong menghabiskan tahun 1980-an sebagai penulis skenario. Dia menulis opera, thriller polisi, dan komedi kung fu. As Tears Go By (1988), adalah film pertamanya sebagai sutradara, menceritakan romansa gangster.

Cuplikan As Tears Go By - Image from Internet. Segala keluhan mengenai hak cipta dapat menghubungi kami

Terobosannya datang ketika ia mulai menggabungkan eksperimen naratif fiksi Amerika Latin, dengan estetika visual MTV. Kritikus memuji tentang kamera yang bergerak dan pengeditan hiruk pikuk dalam film Wong yang kembali ke genre gangster, dengan Chungking Express (1994) dan Fallen Angels (1995).

Setiap film adalah paduan aneh dari alur cerita terpisah yang disatukan oleh geografi saja. Ada gangster, wanita penyelundup narkoba, pembunuh bayaran yang amnesia, tetapi juga ada polisi yang mabuk cinta, dan penguntit yang lucu, yang semuanya dihantui oleh masa lalu.

Smude Motion dalam Chungking Express - Image from Internet. Segala keluhan mengenai hak cipta dapat menghubungi kami

Meninjau film-film ini, Roger Ebert mengklaim bahwa gaya MTV-ish Wong ini adalah gaya tanpa substansi. Wong bahkan menemukan teknik baru, yang disebut 'smudge-motion'. Dengan memanipulasi kecepatan rana kamera dan menggandakan bingkai, membuat gambar menjadi kabur, aksi yang terhenti, menunjukkan drama sesaat sebelum memudar dan terlupakan.

Fallen Angels - Image from MUBI

Dengan Days of Being Wild, Wong memulai trilogi film tentang Hong Kong tahun 1960-an. Film tersebut memperkenalkan dua karakter yaitu, Maggie Cheung sebagai Su Li-Zhen dan Tony Leung sebagai Chow Mo-Wan, yang berperan sebagai tetangga dalam film In the Mood for Love. Su adalah seorang pegawai pengiriman, dan Chouw adalah seorang jurnalis.

Keduanya sudah memiliki pasangan masing-masing, namun ternyata pasangan mereka tidur dengan satu sama lain. Dengan rasa penasaran dan cemburu, Su dan Chow kemudian memainkan peran atau memperagakan bagaimana perselingkuhan antara pasangan mereka dimulai, tetapi kemudian mereka berakhir jatuh cinta. Sekuelnya, 2046 (2004), menggambarkan Chow sebagai penulis playboy yang tersiksa oleh ingatan akan Su.

Cuplikan 2046 - Image from Internet. Segala keluhan mengenai hak cipta dapat menghubungi kami

Film-film Wong berikutnya tidak pernah kembali ke bentuk In the Mood for Love. Penonton, yang sangat ingin melihat Chow dan Su bersatu kembali, menginginkan sekuel lain, tetapi Wong menolak untuk menulis kembali kisah itu. (*)


Informasi Seputar Tiongkok

Load more
Banner Kanan
Logo follow bolong