Lama Baca 3 Menit

44% Wanita Muda Perkotaan China Tidak Berencana untuk Menikah

12 October 2021, 12:35 WIB

44% Wanita Muda Perkotaan China Tidak Berencana untuk Menikah-Image-1

Pernikahan di China - Image from BBC

Bolong.id - Hampir setengah dari wanita muda perkotaan dan hampir seperempat pria mengatakan mereka tidak berencana untuk menikah, menurut survei baru-baru ini yang dilakukan oleh Liga Pemuda Komunis dan dilaporkan oleh surat kabar pemerintah Guangming Daily. 

Dilansir dari Sixth Tone pada Senin (11/10/2021), sekitar 44% responden wanita mengatakan mereka tidak berencana untuk menikah, dibandingkan dengan hampir 25% pria. Survei dilakukan oleh Pusat Penelitian Komite Sentral Liga Pemuda Komunis dan melibatkan kaum urban yang belum menikah berusia 18-26 tahun.

Ketika Tiongkok berusaha meningkatkan angka kelahiran, banyak anak mudanya ragu untuk berkeluarga. Diperkirakan 8 juta pasangan menikah pada tahun 2020, dibandingkan dengan tahun 2013 sebanyak 13 juta, penurunan sebesar 39%, menurut statistik resmi.

”Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak anak muda tidak tertarik untuk menikah,” kata laporan Liga Pemuda. “Ini telah menjadi potensi risiko bagi seluruh masyarakat.”

Sebanyak 2.905 pemuda perkotaan yang belum menikah berusia 18 hingga 26 tahun berpartisipasi dalam survei dan wawancara lanjutan.

Ketika ditanya tentang kesediaan untuk jatuh cinta, 12,8% responden memilih “tidak mau jatuh cinta” dan 26,3% menjawab “tidak yakin”. Sekitar 25% mengatakan mereka “tidak yakin” untuk menikah, dan 8,9% mengatakan mereka “tidak akan menikah”, yang berarti 34% remaja tidak lagi menganggap pernikahan sebagai hal yang wajar. Selain itu, hampir 30% anak muda yang diwawancarai mengatakan mereka tidak pernah jatuh cinta.

Kelompok lain yang menunjukkan keengganan kuat untuk menikah adalah kaum muda yang tinggal di daerah kaya. Menurut laporan itu, tingkat pernikahan terendah di Tiongkok ditemukan di Shanghai yang lebih maju secara ekonomi dan provinsi tetangga Zhejiang.

Para skeptis pernikahan mengutip kekhawatiran tentang biaya pribadi dan keuangan. Ditanya alasannya, 60,8% mengatakan “sulit menemukan orang yang tepat,” dan 34,5% mengatakan mereka “merasa tidak punya waktu dan tenaga untuk menikah.”

Responden juga mengatakan bahwa “biaya finansial pernikahan terlalu tinggi” dan “biaya memiliki anak terlalu tinggi”, masing-masing sebesar 46% dan 56,2%. Selain itu, 30,5% anak muda mengatakan mereka “tidak percaya pada pernikahan” karena pengalaman negatif mereka sendiri dan penggambaran hubungan toxic di media.

Para peneliti menyarankan beberapa kebijakan untuk meningkatkan kepercayaan dalam pernikahan, termasuk memperkenalkan pendidikan hubungan ke dalam sistem pendidikan publik, dan konseling pernikahan publik untuk kaum muda. Laporan tersebut juga menekankan pentingnya lingkungan yang ramah perempuan dan kondisi yang lebih baik bagi ibu yang bekerja. (*)


Informasi Seputar Tiongkok