
Bolong.id - Makanan tradisional sering menjadi simbol kuat keterikatan emosional dan identitas budaya. Dua hidangan berbalut adonan yaitu dumpling dari Tiongkok dan tortellini dari Italia dipandang sebagai contoh nyata bagaimana makanan sederhana bisa mencerminkan nilai sejarah, keluarga, dan perayaan lintas budaya.
Di Tiongkok, dumpling merupakan bagian tak terpisahkan dari perayaan Malam Tahun Baru Imlek, ketika keluarga berkumpul di sekitar meja untuk bersama-sama membungkus adonan dengan isian daging atau sayur. Aktivitas ini bukan sekadar memasak, melainkan juga ritual sosial yang melambangkan reuni keluarga, harapan, dan kebersamaan.
Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di Italia, tortellini sejenis pasta isi menjadi hidangan ikonik pada meja keluarga saat perayaan Natal. Disajikan dalam kaldu hangat atau bersama saus tertentu, tortellini mencerminkan tradisi kuliner yang diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari kenangan keluarga saat musim liburan.
Meski berasal dari latar belakang gastronomi yang berbeda, kedua hidangan ini memiliki kesamaan esensial: adonan yang diisi dan dibentuk dengan tangan, diproses bersama keluarga, dan membawa makna emosional yang kuat bagi masyarakatnya. Proses membuat dumpling atau tortellini sering kali menjadi momen kolektif yang menghubungkan generasi, cerita keluarga, dan tradisi lokal.
Laporan itu menegaskan bahwa makanan tidak sekadar menjadi konsumsi melainkan sebuah medium budaya yang menyatukan nilai-nilai sosial, memori, dan identitas. Dalam setiap lipatan adonan, ada keterkaitan antara rasa dan kenangan, menjadikan setiap gigitan bukan hanya soal cita rasa, tetapi juga ikatan emosional dengan kampung halaman.(*)
Informasi Seputar Tiongkok
Advertisement
