Baca dalam 3 menit

Peneliti Ungkap Gejala Baru COVID-19, Parosmia

SHARE ARTIKEL

Parosmia - Image from okezone

Jakarta, Bolong.id - Penderita COVID-19 berkepanjangan merasakan gejala yang disebut parosmia. Yakni, halusinasi mencium bau menyengat, seperti bau amis ikan, belerang, dan bau manis yang tidak enak.

Ahli bedah telinga, hidung dan tenggorokan (THT) di Edge Hill University Medical School Profesor Nirmal Kumar menyebut gejala tersebut "sangat aneh dan sangat unik".

Kumar menyampaikan bahwa di antara ribuan pasien yang dirawat karena anosmia jangka panjang di seluruh Inggris, beberapa di antaranya mengalami parosmia.

Dalam kondisi tersebut, pasien mengalami halusinasi penciuman, di mana indera penciuman terdistorsi dan sebagian besar aroma tak menyenangkan.

Dilansir dari CNN Indonesia, berikut fakta-fakta terkait parosmia yang disebut gejala baru Covid-19, sebagaimana dilansir Healthline.

Gejala parosmia

Dalam kasus yang parah, parosmia dapat menyebabkan pengidapnya merasa sakit secara fisik saat mendeteksi bau yang kuat dan tidak sedap. Gejala utamanya adalah merasakan bau busuk yang terus-menerus, terutama saat makanan akibat kerusakan neuron penciuman.

Penyebab parosmia

Parosmia biasanya terjadi setelah neuron pendeteksi bau di hidung atau indra penciuman rusak karena terinfeksi virus maupun kondisi kesehatan lainnya. Kerusakan neuron ini mengubah penafsiran bau yang diterima bulbus olfaktorius di mana fungsinya adalah untuk penciuman, sensitivitas deteksi bau, atau menyaring bau.

Parosmia dapat didiagnosis oleh ahli THT, yang mungkin memberikan zat berbeda lalu meminta pasien menjelaskan aromanya dan menentukan peringkat kualitasnya.

Beberapa hal juga akan diperiksa dokter termasuk riwayat kanker dan kondisi neurologis keluarga, infeksi yang baru dirasakan, gaya hidup, dan konsumsi obat-obatan.

Pengujian lebih lanjut melalui rontgen sinus, biopsi daerah sinus, atau MRI juga mungkin dilakukan.

Pengobatan parosmia

Pada beberapa kasus parosmia dapat diobati, tapi tidak semuanya. Jika parosmia disebabkan oleh faktor lingkungan, pengobatan kanker, atau merokok, kemampuan mencium dapat kembali normal setelah pemicunya dihilangkan.

Terkadang pembedahan diperlukan guna mengatasi parosmia. Perawatan untuk parosmia meliputi penjepit hidung untuk mencegah bau masuk ke hidung, konsumsi zinc, vitamin A, dan antibiotik.

Beberapa orang dengan parosmia menemukan gejalanya mereda dengan melatih penciuman melalui berbagai aroma setiap pagi. Meski begitu, pemeriksaan dokter dianjurkan guna mengobati kondisi ini.

Pemulihan parosmia

Kondisi parosmia biasanya tidak permanen. Neuron dapat membaik seiring berjalannya waktu. Waktu pemulihannya pun berbeda sesuai dengan penyebab, gejala, dan pengobatan yang dijalani.

Jika parosmia disebabkan oleh virus atau infeksi, indra penciuman dapat kembali normal tanpa pengobatan. Namun pemulihannya membutuhkan waktu antara dua hingga tiga tahun.

Penelitian pada 2009 menunjukkan bahwa 25 persen orang yang melatih penciuman selama 12 minggu dapat mengurangi gejala parosmia mereka. Tetapi perlu ada lebih banyak penelitian mendalam untuk memahami apakah jenis perawatan tersebut efektif. (*)

Terkait

Health

Peneliti Ungkap Gejala Baru COVID-19, Parosmia

  • Lupita
  • 04 Jan 2021

Health

8 Gejala Baru COVID-19, Sakit Mata Hingga Masalah Pencernaan

  • Lupita
  • 06 Jan 2021
Logo follow bolong